no CROWN without CROSS
Nats: Filipi 2:6-11
[6] yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, [7] melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. [8] Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. [9] Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, [10] supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, [11] dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!
Perikop ini sudah sering kali saya renungkan, secara khusus yang berkaitan dengan “kenosis” atau ketika membahas persatuan dalam gereja. Perikop di atas dapat dibagi menjadi dua bagian yakni ayat 6-8 dan ayat 9-11. Ayat 6-9 merupakan sebab sedangkan ayat 10-11 merupakan akibat.
Frasa “Yang walaupun dalam rupa (morphe) Allah …”, menunjuk kepada pribadi Yesus yang esensi (morphe = wujud) – Nya adalah Allah telah mengosongkan dirinya (kenoo – self emptyness) sedemikian rupa dengan (1) tidak mempertahankan derajat keilahian-Nya, (2) mengambil rupa seorang hamba dengan mengambil wujud (=morphe) manusia, dan (3) dalam kemanusiaan-Nya ia memilih menjadi manusia yang paling hina dengan mati tersalib. Baca entri selengkapnya »
).