Akh ketemu kawan lama …

Sekitar 10 tahun yang lalu saya membeli buku berjudul When Sceptic Ask (Norman Geisler) di Borders Book Store di kawasan Orchard Road. Buku tersebut sulit saya pahami karena keterbatasan bahasa saya dan dasar teologi saya yang belum memadai. Sehingga, tidak pernah sekalipun saya menyelesaikan pembacaan saya atas buku tersebut. Hanya, pada saat diskusi atau mau bikin oret-oretan saja buku tersebut sering kali saya buka-buka. Buku tersebut menjadi salah satu buku favorit saya waktu itu selain buku Commentary of Dr. Zacharias Ursinus on Heidelberg Catechism, Systematic Theology: An Introduction to Biblical Doctrine (Wayne Grundem)  dan An Encyclopedia of Bible Difficulties (Gleason Archers). 

Baca entri selengkapnya »

Sincere Humbleness

Dalam suatu guyonan bersama teman-teman dari posamipaui terlontar suatu pernyataan dari seorang kawan yang mengatakan “Aku ini tidak punya apa2 yang patut saya banggakan. Satu-satunya hal yang saya punyai dan banggakan adalah kerendahan hati” :)

Mungkin anda tersenyum mendengarkan paradoks lelucon di atas. Bagaimana mungkin “kerendahan hati” kok dapat dibanggakan? Bukankah, ketika seseorang membanggakan sesuatu yang melekat pada dirinya, hal itu membuktikan orang tersebut tidak rendah hati lagi?.

Salah satu buah yang paling sulit dihasilkan oleh kehidupan kristiani adalah kerendahan hati yang tulus (sincere humbleness selanjutnya di singkat sH).

Baca entri selengkapnya »

Narimo Ing Pandum

Narimo Ing Pandum (disingkat NiP) merupakan salah satu falsafah hidup masyarakat Jawa yang artinya kira-kira adalah “menerima dengan ikhlas setiap pemberian yang telah diterima”.

Seperti halnya doktrin predistinasi, istilah ini sering disalahmengerti sebagai suatu sikap yang fatalistik. Pada hal jika mengkaji budaya Jawa –yang mana falsafah di atas bersumber– tidaklah demikian maksudnya. NiP merupakan suatu sikap tulus ikhlas atas pemberian Allah yang telah diterima (dan yang tidak dapat dirubah lagi). Ini bukan suatu sikap fatalistik ala Jawa, sebab dalam budaya Jawa juga dikenal falsafah “Kodrat bisa diwiradat”. 

Baca entri selengkapnya »

Mosaik ….

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia.” Mat 26:13

Penggalan di atas merupakan komentar atas kritik pedas yang dilakukan oleh para murid (dalam Injil Yohanes: Yudas) atas tindakan Maria (saudara Lazarus) mengurapi Yesus dengan minyak Narwastu yang mahal. Bagi mereka hal itu suatu pemborosan. Namun tidak bagi Maria. Maria tidak memperhitungkan harga nominal maupun dampak sosial yang ditimbulkan akibat perbuatannya tersebut. Hanya satu alasan bagi dia … Dia mencintai Tuhannya. Bagi dia bukan berapa dan bagaimana … melainkan mengapa hal itu dilakukan.

Baca entri selengkapnya »

Berteologi …

Kita sering mendengar bahwa tugas berteologi hanyalah milik para teolog. Saya setuju dengan pendapat itu. Namun saya menolak istilah jika teolog itu identik dengan pendeta, penyandang gelar S. Th, M. Th, D. Th dan gelar-gelar lainnya. Karena, kata teologi yang berasal dari bahasa Yunani: θεολογία, merupakan gabungan dari kata θεός (theos) yang berarti “Allah” dan  λόγος (logos) yang berarti “pengetahuan”. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa teologi merupakan upaya pendekatan untuk mengenal Allah. Apakah upaya pengenalan akan Allah ini hanya dimonopoli oleh para mahasiswa seminari atau sekolah tinggi teologi ?? Tentu saja tidak! Ayah CB yang hanya lulus PBH (pemberantasan buta huruf) pun mempunyai konsep pengenalan akan Allah yang tentu sangat jauh berbeda dengan definisi yang diberikan oleh Pdt. Prof. Dr. Sadrakh-Mesakh-Abednego Ph. D.

Bagi ayah CB, Allah adalah Sang Hyang Akaryo Jagad (pencipta alam semesta), tan keno kinoyo ngopo tan keno kinirupo (yang tidak bisa dibagaimanakan dan tidak bisa diserupakan), kang welas asih (yang mahakasih) ….. Bagi Prof Sadrakh, Allah adalah the supreme being, causa prima, yang mempunyai nama-nama atau sebutan-sebutan semisal YHWH,  Elohim, El-Shaddai, El-Elyon dlsb … yang mempunyai tiga hypostasis dan satu ousia … (pokoke njelimet dah!).

Namun bagi CB model berteologi keduanya sama absahnya dan sama berkenannya diahadapan “pribadi” ingin mereka kenal.

Mengikuti jejak ayah CB, oret-oretan dalam blog ini merupakan catatan upaya pengenalan CB atas Allah yang diyakininya. Selamat Menikmati. 

« Entri lama