Allah Tri Tunggal – Bagian I

ALLAH TRI-TUNGGAL

Pendahuluan:

Ajaran (dogma) ini paling sulit dimengerti dan susah diterima oleh umat beragama lain dalam tradisi monoteisme yang ketat. Karena dalam ajaran ini kita berusaha mengerti tentang jati diri Allah yang diluar jangkauan pemikiran, bahasa maupun budaya manusia (beyond explanation). Sehingga upaya maksimal yang bisa dilakukan adalah menggunakan bahasa dan pencitraan yang bersifat manusiawi.

Tentu sebagai makhluk yang berakal, kita diwajibkan menggunakan akal budi menggunakan akal-budi (otak) kita. Namun perlu disadari dalam membahas ‘misteri ilahi’ ada beberapa keterbatasan akal-pikiran kita tersebut di antaranya:

  • Otak kita ini dicipta (created), berusaha mengerti sang pencipta (creator).

  • Otak kita ini terbatas (limitted), berusaha mengerti suatu keberadaan (being) yang tak terbatas (un-limitted).

  • Otak kita ini sudah tercemar (poluted) oleh dosa dan prapaham, yang tentu akan dapat membelokkan analisa dan pemahaman kita.

Mustahil kita mengerti kesejatian Allah secara gamblang (vivid) 100%, untuk itu kita perlu rendah hati dalam mempelajari dogma ini, seandainya ada hal yang tidak bisa kita jelaskan mari kita kembali kepada sabda-Nya yang tercatat dalam Ul 29 :29 à “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini.”

A. Istilah dan sejarah terjadinya dogma ini.

Perlu diketahui bahwa istilah ini tidak pernah ada di dalam Alkitab, namun demikian konsep ke-tri-tunggal-an ini tersirat sepanjang PL dan PB. Misalkan saja dalam PB formula baptisan (Mat 28:19b), juga peristiwa pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis di sungai Yordan (Mat 3:16-17, Mrk 1:9-11, Luk 3:21-22, Yoh 1:32) belum teks-teks lepas yang menyaksikan masing-masing pribadi[1] adalah Allah. Demikian pula dalam PL, dimana penyebutan Allah yang menggunakan bentuk jamak dalam menyebut Allah yang esa.

Pada masa gereja perdana masalah yang paling mendesak untuk dirumuskan adalah siapakah Yesus Kristus yang bangkit itu. Setelah melalui berbagai perdebatan, pergumulan dan konsili maka dirumuskanlah Yesus itu Tuhan. Yesus Kristus itu sang Firman yang menjadi manusia. Yesus Kristus itu ilahi sekaligus manusiawi. Setelah itu terbentuk maka masalah berikutnya adalah hubungan Yesus Kristus itu dengan Allah Bapa sekaligus dengan Roh Kudus.

Banyak bapa gereja yang berusaha merumuskan dogma tri-tunggal ini, dimulai dari Yustinus Martyr, Ireneus, Tertullianus, Origenes, Arius, hingga dibawa ke dalam persidangan-persidangan gereja. Melalui beberapa kali persidangan antar pemimpin gereja (konsili) diantaranya adalah konsili Nicea (325) yang belum mampu mengakhiri sengketa dogma ini. Setelah lima dasawarsa melalui pemikiran-pemikiran Anasthasius, Bapa Kapadosian dari tradisi gereja timur (Basilius Agung, Gregory dari Nyssa dan Gregory dari Nazianzus) juga Augustinus (tradisi barat), pengakuan iman Nicea dirumuskan ulang menjadi bentuk akhir seperti yang disetujui dalam konsili Nicea-Konstatinopel (381 M).[2] Adapun pengakuan iman Anasthasius dan Nicea-Konstatinopel dapat dibaca di bagian lampiran makalah ini.

B. Triteisme, Politeisme, Monoteisme, Henoteisme dan Tri-Tunggal.

Dalam sistem keagamaan ada  kepercayaan akan adanya Allah (teisme). Ada yang percaya kepada tiga Allah (tri-teisme), banyak Allah (politeisme), satu Allah (monoteisme), atau mempercayai dan menyembah satu Allah namun sekaligus juga mengakui adanya Allah lain pada tradisi-tradisi agama di luar agamanya (henoteisme).  Dengan perkataan lain henoteisme adalah monoteisme secara prinsip namun polyteisme secara praktek.[3]

Kekristenan lahir dan bersumber pada sistem kepercayaan dan budaya Yahudi. Karena itu konsep keesaan Allah (tauhid) yang kita pahami dalam doktrin Kristen berakar dari konsep Tauhid Yahudi, yang sangat ketat dengan monoteisme. Hal ini terlihat sekali dalam pengakuan iman (syahadat[4]) mereka yang berbunyi “Dengarlah hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa” [5] (Ul 6:4).

Demikian pula Tuhan Yesus pun mengulang shema yang sama dalam Mrk 12:29 (bnd. Ay 32). Bahkan ketika menghadapi godaan iman ia mengutip nats PL[6] yang berbunyi “…Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada dia saja kamu berbakti” (Mat 4:10b).

Rasul Paulus seorang rasul Kristen yang berlatar belakang Yahudi menekankan monoteisme dengan mengatakan ” … bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu: Bapa …” (1 Kor 8:6).[7]

Sehingga selaku anggota gereja dari gereja yang am, sepanjang abad dan tepat kita pun mengaku dan percaya bahwasanya Allah kita itu Esa adanya (monoteisme), bukan triteisme, henoteisme atau politeisme seperti dituduhkan oleh berbagai fihak.

C. Fakta-fakta Alkitab: Allah Bapa, Anak Allah dan Roh Kudus adalah Allah.

Selain fakta-fakta Alkitab yang menekankan keesaan Allah di atas, Alkitab juga memaparkan bahwa baik Kristus maupun Roh Kudus juga Allah.

Dalam doktrin Kristologi kita telah melihat bersama-sama bahwa Yesus Kristus itu ilahi[8] (Yoh 5 :23, Yoh 10 :31-38, Yoh 14:7-10, Yoh 15:23, Yoh 20 :28, Mat 26:63-64), karena Dia adalah wujud Allah yang tidak kelihatan. Firman Allah yang menjadi manusia (Yoh 1:1, 14). Demikian pula halnya dalam doktrin Pneumatologi kita dapat mengenal bahwa Roh Kudus itu ilahi (Kis 6:3-4,9)

Sehingga dapatlah dikatakan bahwa, di satu sisi teks-teks Alkitab yang pengakuan iman kita mengakui adanya Allah yang Esa, namun di fihak lain teks-teks dari kitab yang sama menyiratkan dan menyuratkan baik secara samar-samar hingga jelas adanya kemajemukan ini. Untuk itulah para bapa gereja berusaha merumuskan iman gereja kepada Allah dengan istilah Allah Tri-Tunggal seperti telah disebutkan di muka.

Adapun secara ringkas dapat dikatakan, Alkitab menyaksikan bahwa:

#1 – Terdapat tiga ‘pribadi’ Allah yang muncul dalam Alkitab.

#2 – Setiap ‘pribadi’ adalah Allah sepenuhnya.

#3 – Hanya ada satu Allah yang esa.

Ke tiga hal di atas merupakan inti sari yang perlu dicatat dan diingat dalam merumuskan Tri-Tunggal[9] yang maha kudus.

 (bersambung ke bag. 2)


[1] Istilah pribadi akan dibahas lebih lanjut di bagian bawah, namun untuk sementara waktu kita menggunakan istilah ini.

[2] Bernhard Lohse, Pengantar Sejarah Dogma Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001), 46-89.

[3] Eka Darmaputera, Sepuluh Perintah Allah MUSEUMKAN SAJA, (Yogyakarta: Gloria Graffa, 20050, 21-27.

[4] Berasal dari kata asyahadu yang berarti aku percaya.

[5] Dalam bahasa Ibrani berbunyi:  Shema Yissrael, Adonai (YHVH) Eloheinu,  Adonai (YHVH) Echad, sehingga nats ini sering disebut sebagai shema. Menariknya lagi kata esa disini menggunakan kata Echad (a compound-one) dan bukan Yakhid (an absolute one).

[6] Ulangan 6:13.

[7] Dari teks inilah kita menyebut Yesus itu Tuhan dan jarang bahkan mungkin tidak pernah menyebut Yesus itu Allah, dengan mengatakan “Allah Yesus”.

[8] Uraian lebih jelas dapat dilihat pada makalah “Yesus Kristus Tuhan Kita”

[9] Wayne Grundem, Bible Doctrine – Essential Teachings of Christian Faith, (Grand Rapids, Michigan: Zondervan publishing House, 1999), 106-111.

10 Komentar

  1. Wakijan said,

    November 20, 2007 at 2:02 pm

    Tuhan Yesus adalah khayalan dramatik yang menusuk alam bawah sadar beberapa manusia. Salah satu naluri manusia adalah kebutuhan akan Tuhan. Saat itu seseorang ditawari Tuhan yang bernama Yesus. Karena ditawari secara berulang seperti metode hipnotis, maka terjadilah self hipnosis. Alhasil seseorang mengalami ilusi seakan Yesus ada dan mengasihinya.

    • Martua Siringoringo said,

      Juli 17, 2012 at 2:16 am

      Allah itu menurut orang Islam Gaib dan menurut orang Kristen Ajaib atau tiada mustahil bagi-Nya, tapi bagi manusia, oleh karena pikirannya terbatas yah, sehingga pemikirannya asal-asalan saja, karena tidak mau menerima pengajaran dari Allah melalui Firman-Nya (Alkitab). Thanks GBU

  2. cbodho said,

    November 21, 2007 at 9:46 am

    Silahken saja kalau mas (atau pak dhe yaa :) ) Wakijan berpandangan demikian. Ttp konon katanya, banyak nya tulisan abad mula2 seputar pribadi Yesus Kristus. Baik yang mengikuti maupun yang menentang-Nya. Klo Dia itu tokoh fiktif kok ada yang repot2 menentangnya yaa ….

    Salam Damai

  3. dony said,

    Januari 12, 2008 at 3:31 pm

    buat mas wakijan

    Perlu anda lihat lagi di comment anda ,bahwa secara tidak sadar maupun sudah disadarkan anda telah mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan
    malahan anda tempatkan di kata pertama yaitu Tuhan Yesus.

    memang Yesus adalah Tuhan .

  4. didit said,

    Februari 1, 2008 at 11:49 am

    apakah bisa saya menadapatkan traktat atau bahan kuliah tentang Teologi Allah Tritunggal

  5. cbodho said,

    Februari 4, 2008 at 12:50 am

    @ Mas Didit:
    Silahken saja kalau mau jadikan oret2an CB sebagai referensi atau koleksi trash-can sampeyan… klo mau referensi2 lain yang CB punya bisa kita diskusikan via JAPRI.

    Shallom!
    CB

  6. signy said,

    Mei 31, 2008 at 9:15 am

    buat bung Wakijhan…

    bung… miturut kulo niki misteri Ilahi, dados….panjenengan dereng nyandhak, kulo nggih dereng, niki sami mawon kaleh sebabe nopo Nabi Muhamad SAW kok mboten pareng rupane ditampilke??? lan sebabe nopo gelar Kanjeng Nabi Muhammad niku SAW kok mboten AS ???? kulo aturi dijawab sing leres nggih nuwun

  7. rigen said,

    April 22, 2009 at 12:09 pm

    Shallom sobat makalahnya its verry good, tapi kalo boleh saya sarankan makalahnya tolong di kasi latar belakangnya dong biar lebih enak jelasin ke orang…nti keyyy???

  8. rigen said,

    April 22, 2009 at 12:31 pm

    buat penulis makalah ini, sebagai pengetahuan Anda dan pegangan Anda dalam mengartikan Allah tri tunggal,Allah itu memang munculnya dalam alkitab itu tiga pribadi tapi pada dasarnya dia adalah satu.Yesus turun ke dunia itu menunjukan kemanusiaannya,bukan menunjukan keAllahannya. Yesus juga merasa sakit,lapar,haus dan menangis.itu yang menjadi dasar bahwa dia manusia asli.saya ingin kasi gambaran Allah tree tunggal itu seperti apa.saya gambarkan ALlah itu seperti telur, telur terbagi atas tiga kesatuan,pertama kuning telur,putih telur,dan kulit telur.jika ketiga kesatuan ini tidak bersatu maka tidak dapat di katakan telur.tetapi kuning telur sendiri,putih telur sendiri,dan kulit telur juga sendiri. tidak dapat dikatakan telur seutuhnya.begitu juga dengan Allah tree tunggal dia terdiri dari tiga pribadi yang berbeda tetapi namun satu pribadi.

  9. cbodho said,

    September 21, 2009 at 12:16 am

    Whuaduh sudah lama nggak pulang ke gubug CB ini, banyak tamu juga tho ?

    @ Signy, setuju 100% orang kadang demi gelaran ‘tercerahkan’ atau freethinker ingin menghapus kata “Mistery” itu dari kamusnya. Di awal tulisan telah disebutkan bahwa otak kita itu created, limitted dan poluted.

    @rigen: maksude latar belakang gimana. Bisa kasih usulan nanti saya tambahkan.

    Salam CB


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: