Allah Tri Tunggal – Bagian II

(Ke bagian – I)

D. Apa yang dimaksud dengan “Allah Tri-Tunggal” itu ?.

Sering ketika kita ditanya siapa Allah kita maka kita menjawabnya Allah Tri-Tunggal. Kalau pertanyaan itu dipertajam apa maksud kata Tri-Tunggal tersebut, maka kita akan menjawab “Satu esensi, tiga pribadi yang esa”.

Dalam pengakuan iman rasuli tidak terlihat perumusan kalimat tersebut di atas, namun dalam pengakuan tersebut tersirat akan adanya tiga pribadi Allah yakni Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus.

Sedangkan dalam pengakuan iman Anasthasius, perumusan Allah Tri-Tunggal adalah Allah itu satu ousia dengan tiga hypostasis. Hal ini juga ditegaskan ulang oleh bapa-bapa kapodosian dan Augustinus. Namun dikarenakan keterbatasan bahasa latin maka sering digunakan istilah satu hakekat dengan tiga pribadi.

Ousia adalah hakekat, esensi atau kesejatian akan sesuatu. Sehingga kalau dikatakan ousia Allah, maka yang dimaksudkan adalah hakekat, esensi, keberadaan yang hanya ada pada diri Allah, yang menunjukkan diri-Nya itu adalah Allah, dan yang berbeda dari yang bukan Allah.[1]

Contoh:

Saya mempunyai esensi kemanusiaan yang sama dengan saudara-saudara sekalian, tanpa peduli ada diantara kita yang cacat atau sempurna, berkulit putih maupun hitam, berambut lurus maupun keriting. Pendek kata, segenap manusia di seluruh dunia hanya mempunyai esensi yang satu saja yaitu kemanusiaan. Hakekat kemanusiaan ini yang membedakan manusia dari lembu yang mempunyai hakekat ‘kelembuan’ dlsb.

Sedangkan meskipun sama-sama mempunyai hakekat yang sama sebagai manusia si Badu berbeda dengan si Andi. Andi dan Badu di sini adalah pribadi-pribadi. Jadi manusia yang satu mempunyai hakekat yang sama dengan yang lain, yang membedakan adalah pribadi, yang dalam pribadi itu melekat sifat-sifat atau ciri-ciri tertentu (mis. orang Indonesia berbeda dengan orang Eropa).

Untuk itulah jika kita terpaksa menggunakan kata ‘pribadi’ hendaknya perlu diingat bahwa kata ‘pribadi’ tersebut tidak boleh dimaknai sebagaimana kita memaknai kata pribadi seperti contoh Badu dan Andi di atas. Beberapa teolog (Grundem diantaranya) memakai istilah ‘pribadi ilahi’ untuk membedakan dengan pribadi Badu dan Andi dalam contoh di atas.

Alasan itu sepenuhnya benar, karena tentang jati diri Allah tidak mungkin ditemukan pencitraan atau penamaan yang memadai. Allah itu tidak mungkin di-seperti-apa-kan (Jawa: tan keno kinoyongopo) dan tidak mungkin dapat -di-rupa-kan (Jawa: tan keno kinirupo)[2].

Kata ‘pribadi’ dalam pengakuan iman di atas, semula diambil dari kata hypostasis (Yun: hypo = dasar, statsis = berdiri tegak; berpribadi), selanjutnya kata ini mengandung makna realitas konkrit atau sifat mutlak untuk mencirikan sesuatu. Dengan demikian perumusan Allah Tri-Tunggal adalah sbb:

Ousia (Dzat) Allah mempunyai sifat mutlak (hypostasis)[3] yaitu Roh dan Firman (Logos) yang sehahekat, sederajat, dan melekat dalam Dzat Allah.

Allah tanpa Firman bukanlah Allah, allah tanpa Roh (Kudus) bukanlah Allah, karena Firman dan Roh merupakan sesuatu yang wajib ada dan mustahil tidak ada pada diri Allah, maka Firman dan Roh itu bersama-sama dengan Allah sejak semula (en arche).

Dalam sistem kepercayaan kita, sang Firman itu menjadi manusia (Yoh 1:1, 14), Yesus merupakan perwujudan dari gambar Allah yang tidak kelihatan (Kol 1:15, Ibr 1:3, Yoh 1:18 2Kor 4:4b). Sehingga barangsiapa melihat sang Anak maka dia telah melihat Bapa (Yoh 14:9b), sebab sesungguhnya Bapa dan Anak adalah satu (Yoh 10:30).  Kalau dikatakan sang Anak lahir (keluar) dari Bapa bukan berarti kelahiran biologis atau sub-ordinasi sang Anak melainkan menekankan bahwa realitas Anak (Firman) itu merupakan hypostasis yang berasal dari relitas Allah (Bapa).

Demikian pula dengan Roh Kudus yang keluar dari Bapa. Ketika sang Firman berinkarnasi menjadi manusia tidak berarti ousia Allah menjadi tidak ada Firman atau menjadi berkurang (sama seperti halnya pikiran kita ketika kita memberi pengertian kepada orang lain), maka ketika Roh Kudus itu mendiami setiap kita Roh Kudus pada diri Allah menjadi berkurang.

 Tentang sehakekat cukuplah jelas karena hanya ada satu hakekat Allah maka “ketiganya” adalah satu hakekat. Sedangkan mengenai kesederajatan dapatlah digambarkan diantara tubuh, jiwa atau roh tidak ada yang lebih tinggi (mulia) dan yang lebih rendah (hina), demikian pula antara Bapa, Anak dan Roh tidak ada perbedaan derajat. Mengenai kemelekatan ketiganya kiranya cukup jelas ousia Allah tanpa salah satu dari hypostasis tersebut bukan lah ousia Allah maka mustahil ketiganya terpisahkan.[4]

Jadi sebenarnya Allah Tri-Tunggal dimaksudkan untuk menjelaskan kebagaimanaan Allah dan bukan keberapaan Allah. Pergumulan perumusan ini yang semula dimulai dari Theofilus dari Antiokhia (181 M), dikembangkan oleh Tertulianus (160-225 M) dan dilanjutkan oleh Athanasius (373 M) yang hidup sezaman dengan Konsili Nicea (325 M) yang menegaskan keesaan Allah dan kebagaimanaan Allah bukan keberapaan Allah.

           (bersambung ke bagian 3)


[1] Daniel Bambang, Allah Tritunggal, (Jakarta: Satya Widya Graha, 2001), 65.

[2] Bnd. Yes 40:14-25.

[3]Sifat itu bukan sifat perbuatan seperti Mahakuasa, Mahapengampun, dll. tetapi sifat yang sudah ada, harus ada, wajib ada (wajibul wujud), dan mustahil tidak ada.

[4] Silahkan baca pengakuan iman Nicea dan Anasthasius mengenai hal ini.

9 Komentar

  1. Muji said,

    Agustus 29, 2008 at 7:02 am

    Saya lagi asyik membaca blog ini (Allah – Tri Tunggal) dan pada akhirnya saya berkomentar.

    Salam kenal.
    Buat teman yang baik, melihat dengan mata hati, mengurai dengan kata hati, memberi dengan budi pekerti, yang terucap adalah sebagian yang bisa di urai lebi dari itu adalah mengada-ada dengan alam pikir yang bisa membuat kurang bijaksana.

    Kajian ini bagus, dan akan bijaksana bila semua orang melihat dengan hakekat, makna yang sebenarnya.

    Terima kasih sudah berbagi hakekat ketuhanan.

    Salam

    Muji

  2. Bobby Butar Butar said,

    Oktober 28, 2008 at 7:45 am

    Apalagi bila kita memandang dari tata bahasa Ibrani. Kata Allah yang digunakan bhs Indonesia berasal dr bhs Ibrani ELOHIM yg maknanya JAMAK. Elohim yg jamak itu disebut sebagai YHWH yg TUNGGAL.
    Sederhana bukan apa yg diwahyukan Alkitab?

    Blessings,

    http://www.rotihidup.co.cc

  3. cbodho said,

    November 26, 2008 at 8:59 am

    @ Bro Muji, Manythanks for the compliments. Anyway this blog have not been update for couple months. Maklum sibuk nyangkul (alias cari makan). Doakan segera bisa update.

    @Lae Butar2,
    Mauliate Godang u/ tambahannya.

  4. Penyelaras Akhir said,

    Maret 10, 2009 at 8:32 am

    Allah adalah Roh, maka Ia tidak berdarah dan berdaging. Ketika Allah menjelma menjadi manusia, itu berarti wujud Allah yang adalah Roh berubah menjadi Yesus yang berdarah berdaging. Jika sessuatu sudah berubah wujud, maka ia tidak lagi dalam wujud yang lama, nah yang menjadi pertanyaannya ialah pada waktu Yesus dibaptis di Sungai Yordan, maka terdengarlah suara dari yang mengatakan,”Inilah Anak yang Kukasihi….”, saudara, suara siapakah ini?, jika ini suara Allah, lantas siapa Yesus yang sedang dibaptis itu?. Jika Allah telah menjdi manusia, maka Allah yang di Surga sudah tidak ada lagi karena sedang menjelma menjdi manusia.

    • cbodho said,

      Maret 10, 2009 at 8:45 am

      Sdr no-name yang saya kasihi,
      Kalau anda mambatasi Allah adalah fungsi ruang dan waktu God=f(z,t) maka pertanyaan anda valid.
      Namun hal itu bertentangan dengan kata pembuka bahwa Allah adalah roh yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu (omniexistence and omnipresent)
      Dengan demikian bukanlah suatu kemustahilan Allah hadir dalam banyak manifestasi ….

      Sebaliknya jika Allah dapat dibatasi oleh ruang dan waktu … dia pasti bukanlah Allah (saya yakin anda setuju akan hal ini :)
      Sayang tidak mencantumkan alamat yg sesungguhnya ….
      Salam saya
      CB

  5. thonnych said,

    September 18, 2009 at 7:36 am

    Ada yang mengumpamakan Tritunggal Allah seperti tritunggalnya air. Air bisa berbentuk cair (air), padat (es), dan gas (uap, walaupun pada dasarnya itu tetap air.

    • cbodho said,

      September 21, 2009 at 1:13 am

      Illustrasi selalu tidak bisa mewakili esensi 100%, kalau illustrasi tersebut dipakai sebagai dogma maka kelemahannya saat H2O tersebut semua membeku maka yang ada tinggal es, air dan uap air nggak ada. Pada hal saat pembaptisan ketiga hyposthasis itu muncul lho … kepriye ? ;-)

  6. Martua Siringoringo said,

    Juli 17, 2012 at 1:53 am

    Kita jangan mengabaikan salah satu firman yang ada tertulis dalam Alkitab supaya kebenaran itu tetap menjadi kebenaran, karena jikalau kita mengabaikan atau melupakannya maka kesempurnaan itu akan hilang dan yang terjadi adalah akan kesalahan penafsiran atau interpretasi yang salah, sehingga pengertian sejatinya hilang. Kita terlalu ngotot mengatakan bahwa kata “KITA” dalam penciptaan manusia dsb kita membatasi kebesaran Allah itu menjadi tiga pribadi saja dengan berfokus kepada Matius 28:19, yaitu : Baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus, ……..sedangkan yang tertulis dalam kitab Wahyu 3:1, Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat disardis : Inilah firman Dia, yang memiliki ketujuh Roh Allah dan ketujuh bintang itu ………. ayat firman ini saja sudah menyebutkan bahwa, Roh Allah yang dimiliki Yesus saja sudah tujuh Roh Allah, dan kita tidak tau berapa Roh yang dimiliki Oleh Bapa. Allah kita itu sangan besar sekali keberadaan-Nya tidak dapat diselami oleh pikiran manusia itulah sebabnya ketika penciptaan manusia dalam Kejadian 1:26, Berfirmanlah Allah :”Baiklah KITA menjadikan manusia menurut gambar dan rupa KITA”, …………..Jadi coba renungkan renungkan Firman ini, yang benar itu seperti apa sih?

  7. cbodho said,

    Maret 10, 2009 at 8:48 am

    Silahkan anda membaca buku2 tafsiran seputar hal ini ….
    Teriakan ini merupakan keterpisahaan relasi antara Putera dan Bapa, karena segenap dosa yang diperbuat oleh seluruh makhluk termasuk saya dan anda ditimpakan kepada-Nya.
    Sebab ada tertulis “Ia yang tidak mengenal dosa dijadikan dosa itu sendiri … supaya kita dibenarkan oleh-Nya” c.f. 2 Kor 5:21.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: