Indahnya Keluarga (7) – Valentine All The Time

Meskipun usia kami dan usia pernikahan kami tidak muda lagi, namun kami tetap turut menyambut setiap datangnya hari Valentine. Biasanya anak-anak saya tinggal di rumah bersama ‘mbak-nya’. Kalau tidak jatuh pada hari libur kami janjian ketemu di suatu tempat yang kami sepakati bersama. Saya langsung dari kantor dan Istri dari rumah. Kadang2 klo sempat saya cari setangkai mawar yang kadang harganya berlipat2 pada hari itu.

Dua tahun yang lalu ketika kami janji temuan di suatu gerai Pizza Huts, kami kepergok dan memergoki dua pasang suami istri yang adalah ’siswa-didik’ kami ketika kami mahasiswa dulu. Lantas kami menyapa … “Good … Good … Good, keep Valentine Spirit all the times yaa. Sampai kaken2-ninen2 (baca opa2-oma2) …”. Baca entri selengkapnya »

Superman or The Fantastic Four

Anda lebih senang nonton Superman atau The Fantastic Four (F4) ?? Kalau anak saya senang nonton Superman. Tetapi seorang pendeta yang menjadi sahabat karib saya (tepatnya saya menganggap dia sebagai sahabat karib) lebih senang nonton F4. Gak tahu kenapa demikian mungkin karena Jessica Alba salah satu pemerannya. Superman datang dari Planet Krypton diluar tatasurya kita, sedangkan F4 yang terdiri dari (Reed, Sue, Johny dan Ben) adalah orang-orang planet Bumi yang terpapar radiasi kosmis, yang menjadikan mereka digdaya. Baca entri selengkapnya »

Christian’s Ahimsa

Pendahuluan:

Ahimsa dalam bahasa Sanskrit berarti ‘tanpa kekerasan’ atau ‘tanpa luka’. Sehingga para penganut ajaran ini menolak segala bentuk kekerasan, diantaranya praktek para vegetarian. Mereka tidak mau makan daging dikarenakan mereka tidak mau melukai binatang yang mereka makan. Ajaran ini berasal dari agama-agama India kuno seperti Hindu, Budha dan secara khusus Jainisme.

Selanjutnya kata Ahimsa ini dipakai dan dipopulerkan oleh Mahatma Gandhi yang menetang pendudukan Inggris di India dengan  perlawanan tanpa kekerasan. Konon Mahtama Gandhi menemukan jati diri gerakan ini dalam sutra-sutra yang ia baca setelah terinspirasi oleh khotbah di Bukit (Mat 5).  Hal ini tepat sepenuhnya … bila kita membaca khotbah di bukit, di situ terlihat berbagai paradoks yang sangat nyata di antaranya:

  • Berbahagialah orang yang lemah lembut hatinya, karena mereka akan menguasai bumi. Pada hal secara empiris jelas terlihat bahwa untuk memperoleh kekuasaan haruslah menggunakan kekuatan bukan kelembutan.

Demikian pula halnya ketika kita membaca penggalan  Mat 5:39-41 berikut ini:

[39]Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. [40] Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. [41] Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.

Baca entri selengkapnya »