Siapakah Sesamaku ??

Nats:  Luk 10:25-37

Thema itu menjadi sangat popular bahkan wikipedia saja membuka halaman khusus untuk thema itu  dibandingkan dengan bagian (atau perumpamaan)  Alkitab yang lainnya. Lihat http://en.wikipedia.org/wiki/Good_Samaritan.  Ceritera ini juga yang mengilhami suatu lembaga penginjilan Lutheran yang diberi nama Good Samaritan Society , dengan motto “In Christ’s Love, Everyone Is Someone”.

Pada gereja yang mula-mula perikop ini ditafsir secara allegoris (pencarian makna rohani secara berlebihan), dengan parallelisasi keselamatan. Yerusalem merupakan kota surgawi dan Yerikho kota duniawi, Orang yang dirampok melukiskan Adam, Perampok melukiskan Iblis dengan tipu dayanya, Imam melambangkan hukum Taurat, Lewi menggambarkan para nabi, orang Samaria menggambarkan Kristus, penginapan menggambarkan gereja gereja, mata uang melukiskan PL dan PB, kembalinya orang Samaria melukiskan kedatangan Kristus yang ke dua kalinya dlsb. Tokoh-tokoh gereja yang memberikan penafsiran allegoris diantaranya: Ireneus, Clemens dari Alexandria, Origenes, Chrysostomus, Ambrosius dari Milan dan Augustinus dari Afrika Utara.

Mengapa perumpamaan ini ditulis ?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut dari teks kita perlu melihat pandangan teologi khususnya (paradigma misi) khas Lukas. Diantaranya adalah sbb:

  • Lukas mempunyai ketertarikan dan mengambil bentuk penekanan yang berbeda dengan Matius. Jika Matius menekankan keyahudian (Mat 10:15), sebaliknya Lukas kepada orang yang bukan Yahudi (Luk 9:52-53). Jika Matius menekankan misi secara verbal (Mat 28:18-20), sebaliknya Lukas menekankan misi sosial sebagai inti dari Injil (Luk 4:16-21), yakni untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.

  • Perhatian Lukas juga tertuju kepada orang-orang non-Yahudi, teristimewa orang-orang Samaria, yang oleh komunitas Yahudi mendapat stigma sangat rendah, seperti terekam dalam Injil-Injil lainnya . Namun, Lukas memberi penilaian yang sebaliknya kepada kelompok terpinggirkan (marginalized) ini. Hal ini terlihat jelas dalam narasi-narasi yang diartikulasikan dalam Injilnya, diantaranya adalah perumpamaan orang Samaria yang baik hati (Luk 10:25-37), sepuluh orang sakit kusta disembuhkan (Luk 17:11-19), dan memasukkan wilayah Samaria sebagai daerah yang harus dikunjungi dan menerima Injil (Kis 1:8).

  • Karena keberpihakannya kepada orang-orang miskin, Lukas sengaja mengkontraskan mereka dengan si kaya. Hal ini terlihat dalam pujian Maria (Luk 1:53), orang kaya dan Lazarus (Luk 16:19-31), juga ucapan ’celaka’ bagi si kaya (Luk 6:24) dsb.  Walaupun demikian, dia tidak mengucilkan semua orang kaya, terbukti dia memasukkan cerita Zakheus si kaya yang bertobat (Luk 19:2-8), di mana Injil-Injil sinoptik yang lain tidak memasukkannya.

Selanjutnya dari perikop ini kita dapat melihat bahwa latar belakang perumpamaan yang Yesus ajarkan adalah sbb:

Ada seorang ahli Taurat mempertanyakan bagaimana cara memperoleh hidup yang kekal ? Tuhan Yesus menanyakan apa yang ‘tertulis dalam Hukum Taurat’, orang tersebut menjawab versi ringkas (ayat 27) yang menjadi intisari Hukum Taurat (bnd Mat 22:37-40). Tuhan Yesus membenarkan jawaban itu dan berkata “Lakukanlah …. “ Just do it!!.

Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?” (ayat 29). Orang ini ingin menegaskan bahwa yang dimaksud dengan sesama adalah “trah Yahudi” saja bukan ? Atau dengan perkataan lain ia ingin meminjam otoritas Yesus untuk membenarkan dan melanggengkan pandangannya, yakni yang harus dianggap sesama hanyalah bangsa Yahudi saja. Melalui entry-point ini Yesus menyampaikan ajarannya, dan selanjutnya di sinilah pengajaran melalui perumpamaan ini dituturkan.

Dari ayat 31-32, terlihat bahwa baik Imam dan Lewi yang lewat tidak berbuat apa-apa, melihat orang yang tergeletak di pinggir jalan yang membutuhkan pertolongan. Mereka memilih untuk tidak berbuat apa-apa, hal ini dimungkinkan dengan berbagai alasan teologis (menyentuh mayat adalah najis) mungkin juga alas an keamanan (jangan-jangan perampoknya kembali lagi). Sebaliknya tidak demikian dengan si orang Samaria dengan mengabaikan permusuhan, dendam dan sakit hati (Yoh 4:9)  mengambil tindakan pertolongan secara tuntas, atas dasar belas kasihan dan peri kemanusiaan (ayat 33-35).

Selanjutnya Yesus menantang si penanya (Ahli Taurat) tadi dengan pertanyaan reflektif-teologis “dari ketiganya siapakah sesama mu itu …..) Ini pertanyaan bak makan buah simalakama. Tidak dimakan ibu mati dan bila dimakan ayah mati. Akhirnya dengan terpaksa si-penanya menjawab  dengan jawaban tricky (ayat 37). Mengapa saya sebut “tricky” ?? Karena dia tidak berani menyebut Imam dan Lewi sebagai sesamanya karena mereka tidak menunjukkan kebaikan yang seharusnya. Tetapi tidak juga menyebut ‘orang Samaria’ itu, karena pengakuan itu akan membuat harga dirinya turun. Maka dia mengatakan “orang yang menunjukkan belas kasihan itu ….” Yang nota bene adalah orang Samaria itu.

Analisa:

Dari paparan narasi di atas dapat dikatakan beberapa point penting yang menjadi penafsiran kita diantaranya:

  • Seperti disebutkan di atas, Lukas menaruh perhatian kepada orang-orang Samaria adalah orang terpinggirkan (marginalized), teristimewa oleh orang Yahudi (Yoh 4:9). Kata anjing dalam Mat 15:26 yang dikenakan kepada orang Kanaan acap kali juga dikenakan kepada orang Samaria.

  • Lukas hendak memberi kritikan kepada pendengar perumpamaan ini yang adalah Yahudi dengan mempertanyakan “Siapa sesamamu manusia ?”. Ini merupakan suatu dilema tersendiri bagi mereka. Mengakui ke-yahudi-an, ternyata sang Iman dan Lewi tidak menunjukkan tindakan yang patut di contoh (10:31-32). Menyebut kata “Samaria” terkesan merendahkan martabat diri sehingga disebutkan “Orang yang menunjukkan belas kasihan itu” (10:37).

  • Para pemimpin agama lebih senang membuat ‘pembedaan dan pemisahan’ demi nama agama (religiousity) dan Tuhan (Mat 7:21-23).

Refleksi Teologis:

  • Siapakah sesama kita ?? Orang Kristen sajakah ?? Protestan sajakah ?? Satu aliran sajakah ?? Anggota gereja kita sajakah ?? Yang satu level sajakah — Baik satu level dalam pendidikan, tingkat ekonomi, gaya hidup dlsb — …. ??

  • Apakah orang-orang ‘kecil’ semacam tukang bakso, sopir angkot, sopir bajai itu sesamaku?? Apakah PRT di rumah, koster di gereja, satpam dan OB di kantor itu sesamaku ??

  • Mari kita renungkan Mat 25:31-46 bnd  Mat 7:21-23.

 “We  cannot truly and effectively carry out the last commission of proclaiming the gospel to all nations unless we are truly and effectively carry out the first commission of loving our neighbors among those nations” (Paul Knitter).

<<<gkigunsa300607>>>

2 Komentar

  1. Johannes Siregar said,

    Agustus 2, 2007 pada 3:56 am

    Orang Samaria, sampai sekarang masih ada…sedikit katanya ?
    Tapi tidak berjumlah/berbiak banyak seperti orang Yahudi dan mereka itu
    minoritas, dimusuhi orang yahudi karena mereka berdoa digunung bukan
    menghadap/ke Yerusalem. Tul nggak? Jadi mereka di jauhkan karena cara
    sembahyangnya lain spt org Yahudi. Gimana dengan Cah sendiri thd org2 yg
    punya cara sembahyang yg aneh atau tidak sama spt Cah ?
    Ini mungkin menarik utk didiskusikan

  2. cbodho said,

    Agustus 2, 2007 pada 6:08 am

    Horas Lae,
    Betul data statistik terakhir katanya nggak sampai 1000 org. Mereka tinggal di sekitar Gn. Gerizim sebelah selatan kota Nablus – Palestina. Akan tetapi kebenaran data tersebut walahualam … soalnya dua hal yang harus kita ragukan dalam dunia ini, keduanya adalah rayuan gombal dan data🙂. Soalnya setiap data ada kepentingan ketika dipaparkan (misalnya kepentingan otoritas Palestina dlsb).

    Mereka dijauhi oleh Yahudi bukan masalah cara sembahyangnya yang aneh, melainkan karena kawin campur dan mungkin sinkretisme akibat perkawinan campur tersebut. Mereka menjadikan Gn Gerizim sebagai tandingan Yerusalem sebagai pusat ibadah. Mereka juga mempunya the Samaritans Pentateuch.

    Sikap aku terhadap orang-orang yang berbeda cara ibadah … aku sudah melangkah ke barisan oikoumenis sejak dulu kok he-he-he.

    Salam,
    CB


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: