Indahnya Keluarga (1) – Pujian Si Sulung

Akhir-akhir ini fenomena hidup melajang semakin menggejala. Dalam berbagai kesempatan saya bersinggungan dengan teman-teman yang memilih untuk hidup melajang. Mereka punya pertimbangan tersendiri yang tidak kalah validnya dibanding dengan mereka yang memilih untuk membina keluarga.

Tulisan ini tidak dimaksudkan membahas baik secara teologis mupun praksis tentang hidup berumah tangga. Bukan pula dimaksudkan sebagai ‘iming-iming’ atau promosi bagi pendukung mereka yang memilih berumahtangga. Melainkan beberapa cuplikan pengalaman hidup bersama Istri, Anak-anak dan anggota keluarga yang lain ….

Misalnya adalah pujian si Sulung berikut ini:

Hari Rabu yang lalu (01/08/2007) sepulang dari kantor, seperti biasa istri tercinta menyuguhkan segelas jus jeruk dengan cinta. Saya menikmatinya di teras rumah sambil melepas lelah, mendadak si Sulung (Obliast, 11 tahun) menyusul dan mengajak bincang-bincang banyak hal. Salah satu yang dia tanyakan adalah mengenai aturan-aturan atau batasan-batasan penggunaan uang tabungan mereka untuk jajan hingga memperbincangkan tabungan pendidikan, tabungan hari tua yang harus saya upayakan dan sebagainya.

 

Melalui berbagai argumen-argumen yang silih berganti sampai  akhirnya si Sulung ‘menyerah’ dan menangkap esensi tindakan kami — biasanya berupa larangan dan peraturan-peraturan — terhadap mereka. Komentarnya “Kok papa bisa bijaksana tentang hal-hal yang akan datang sih Pa … ?? Aku gembira dipuji, sebab bukan dipuji oleh ‘orang luar’ yang hanya melihat tampilan luar saya. Melainkan oleh anak-ku yang sering melihat ketika aku mencubit, membentak dan memarahi mereka …. Ku reguk sisa jus yang tinggal sedikit untuk menyembunyikan ‘rasa bangga campur malu ku’ Nikmat  sekali … tak terasa hingga tinggal bongkahan-bongkahan es dalam gelas jus ku.

Ku peluk pundak si Sulung masuk dan meminta dia untuk memimpin doa makan malam bersama …

Indahnya keluarga …. terimakasih Tuhan  

3 Komentar

  1. Bening said,

    Agustus 6, 2007 pada 6:24 am

    Duh, mesra nian hubungan sang Ayah dan anak🙂.
    Nampaknya anak-anak lebih mudah faham bila diajak berdiskusi, bukan hanya mentah-mentah menerima peraturan yang ada tanpa terpuaskan rasa ingintahu mereka tentang “mengapa begini-mengapa begitu”

    Beruntungnya si Sulung memiliki Ayah yang bijak seperti Anda.🙂

  2. cbodho said,

    Agustus 7, 2007 pada 12:44 am

    Hello Mbak Bening,
    Sorry aku naruh blog sampeyan di blogroll daku tanpa ijin (aku sering kunjungi hanya diam2 saja biar situ tidak ke GeEr an he-he-he )… aku juga salut hubungan sampeyan dengan Aa. Yang mampu menghidupi pluralitas iman dalam keluarga. Salam buat Aa yaa Mbak …
    CB

  3. cintabening said,

    Agustus 14, 2007 pada 1:37 am

    Silakan mas, ndak perlu minta ijin kok🙂.

    Tentang berkunjung diam-diam juga tidak apa-apa, dan tidak perlu khawatir, tiap hari saya minum jamu anti GeEr kok.:mrgreen:


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: