Indahnya Keluarga (3) – Koreksi Panengah

Kali ini aku mau ceritera tentang Jochanan. Dia anak nomer dua alias ditengah-tengah, sehingga sering kami sebut si Tengah atau Panengah (jawa: yang berada ditengah2 dan bersikap menengahi jika ada yang bersengketa). Jochanan sedikit ‘autis’, sehingga waktu kecil menjalani terapi wicara dan terapi-terapi lainnya. Sekarang sudah bisa bersekolah di sekolah umum dan mempunyai prestasi yang cukup membanggakan. Dia suka sains, musik tetapi dia lebih suka dan berbakat di bahasa. Lao Shi (guru mandarin) dia sangat sayang kepadanya karena dia sangat cepat menghapal vocabulary.

Selain itu dia mempunyai pemikiran yang jauh lebih dewasa dari anak-anak sebayanya. Berikut ini contohnya:

Hari Jum’at malam kemarin saya ijin rapat PHM di gereja karena sakit dan kelelahan yang saya alami. Belum lagi acara pernikahan Sabtu pagi hingga sore yang harus aku ikuti serta pelayanan KRT malam harinya. Maka saya memutuskan untuk minta ijin. Setelah telepon teman-teman sejawat, jam 18:30 tepat aku berangkat tidur.  Sekitar jam 19:15 aku dibangunkan Jochanan untuk mengikuti rapat keluarga (kami + ke tiga anak kami). Dengan males-malesan aku bangun untuk mengikuti rapat ad-hoc tersebut. Ternyata agendanya adalah rapat evaluasi ‘komunikasi’ kami.

Yang dapat giliran pertama adalah si Tengah, ia memberi koreksi kepada kakak, adik, papa dan mamanya. Dengan terbata-bata (karena keterbatasan mengungkapkan ide dalam kalimat-kalimat, selayaknya anak autis lainnya) ia mengkoreksi mamanya yang ‘cerewet’ dengan aturan-aturan di rumah. Ia mengatakan “Aku tahu bahwa tujuan mama dengan aturan-aturan itu semua demi kebaikan kami anak-anak nya, tetapi sebaiknya disampaikan dengan ….” dst. dst.

Selanjutnya dia mengatakan hal ini kepada saya “Sama seperti mama, papa sayang kepada anak-anaknya. Sekali-kali papa marah, tetapi itu untuk kebaikan anak-anaknya”. Ia mengusap matanya yang mulai berair “Papa kerja keras untuk anak-anak dan isterinya”. Dia diam sebentar dan kemudian melanjutkan: “Aku tahu papa pintar dan cepat menangkap sesuatu termasuk ilmu-ilmu apapun, tetapi kalau memberi nasihat, dengarkan dulu alasan kami sampai selesai baru memutuskan ….”

Degg, aku tertampar mataku berkaca-kaca. Aku sadar bahwa motto hidupku yang “I’m move with the movers” tanpa sadar saya terapkan kepada anak-anakku yang masih kecil-kecil. Karakterku yang sanguin, yang terbiasa berpikir cepat dan berespon cepat telah salah penerapan. Dengan cepat pula berespons ala sanguinist, aku peluk dia dan mengatakan “Terimakasih Ergi … papa memang salah, papa akan belajar untuk lebih sabar mendengar”. Ku elus-elus rambutnya (anak-anakku suka ini) yang ikal sambil berkata “Silahkan dilanjutkan, Ergi ….”.

Kemudian dia memberi nasihat kepada kakaknya bagaimana seharusnya menjadi figur (dia menggunakan kata ‘tokoh’) kakak yang seharusnya. Adiknya yang sering ‘memboikotnya’ pun kena sentilan filosofis sang Panengah.

Lamat-lamat teringat nasihat rasul Yakobus yang mengatakan “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah” (Yak 1:19).

Terimakasih Jochanan … tak salah engkau dinamai demikian, kata-katamu selembut surat-surat Yohanes sang Rasul kasih itu.

Cepatlah besar anakku biar aku bisa banyak belajar dari padamu.

Papamu…

2 Komentar

  1. yom said,

    September 21, 2007 pada 1:26 am

    Wah Yo indah sekali cerita si Tengah ini. Memang kita kadang kurang sabar, dan tidak memberi kesempatan pada anak kita unutk mengutarakan argumen mereka. Thanks Yo ceritanya…

  2. cbodho said,

    September 24, 2007 pada 3:28 am

    Nuwun Yom …. kita juga bisa dengar suara Tuhan ditengah gadhuhnya pertengkaran dan canda-ria mereka. Yang penting kita peka dan bersedia mendengarkan saja. Sering mampir ke sini ya Yom … salam buat istri dan anak2. Gusti mberkahi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: