Mbok Pariyem nDherek Gusti

Mbok Pariyem tetap seperti dulu tetap berjualan dhawet[1] di pinggiran buk[2] dekat pasar Gempol. Meskipun sudah “ndherek Gusti” demikian dia menyebut dirinya setelah memeluk agama Kristen. Memang demikian makna Kristen yakni mengikut Kristus. Hanya saja dia sedikit lebih ramah dan betah berbincang dengan para pembelinya, dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Ia tetap berseri meskipun kadang dhawetnya tidak habis terjual karena hujan. Dia selalu menjawab dengan istilah “Gusti mboten Sare” ketika ditanya komentarnya tentang dhawetnya tidak habis. Maksudnya Tuhan tetap memperhatikan, dia tidak memakai istilah-istialah asing seperti “Jehova Jireh” meskipun istilah itu sering didengarnya dari pak Anton yang mempunyai mobil sedan dan menulis kata asing itu di kacanya.

Namun sejak “ndherek Gusti” mbok Pariyem membuat dhawet dua kali sehari untuk dijual ke sawah-sawah yang sedang panen. Bukan karena ia ingin kaya, karena ia tahu cara mencukupkan diri. Melainkan karena ingin bercerita tentang rasanya “nderek Gusti” dan berbincang dengan tetangganya disawah, karena selama ini ia sibuk berjualan di buk dekat pasar itu. Ia juga ingin membeli baju yang lebih pantas untuk ke gereja, membeli “kidung pasamuan”[3] meskipun untuk membaca saja ia terbata-bata. Ia juga ingin mengumpulkan uang agar setiap minggu bisa “Asung syukur” kepada Tuhan melalui gereja, karena ia tahu Tuhan tidak membutuhkan uangnya yang tidak seberapa itu. Ia tahu Tuhan lebih butuh dirinya.

Karena hal-hal diatas dia lakukan dengan tekun banyak orang-orang “biasa” seperti: para petani, pedagang yang ikut “ndherek Gusti” bahkan Pak Wignyopranoto yang punya penggilingan padi pun tertarik “ndherek Gusti” setelah melihat para buruhnya yang semakin rajin bekerja setelah ikut-ikutan mbok Pariyem “ndherek Gusti”, seperti juga halnya Pak Anton yang ndherek Gusti karena anaknya Nonik yang tertarik akan kidungan yang diajarkan Mbok Pariyem ketika membeli dhawet.

Gereja kecil yang semula hanya pasamuan beberapa orang itu, sekarang semakin ramai apalagi ketika hari raya “Undhuh-undhuh” sehabis panen, semua penuh sukacita membawa “Asuk Syukur” berupa hasil panennya.

Sekarang gereja itu semakin besar, punya pendeta yang bergelar S Th. Pak Anton dan Pak Wignyo  jadi Majelis, gereja dibangun dengan megah dan memakai marmer lantainya, lonceng besar di menaranya, bahkan banyak lagu-lagu dan kata-kata asing seperti “Jehova Rafa”, “Jehova Jireh”, “Anak Radja” yang sering terdengar. Musik angklung yang biasa mereka mainkan sekarang sudah diganti piano dan keyboard, yang tidak bisa mereka mainkan bersama-sama.

Sayang sejak saat itu teman-teman mbok Pariyem yang dulu setiap minggu rajin beribadah, mereka mulai jarang pergi kegereja. Mereka mendengar lagu-lagu gereja dari rumah mereka masing-masing. Ketika ditanya mbok Pariyem mengapa mereka jarang lagi ke gereja mereka berkata “Dereng gadhah sepatu” belum mempunyai sepatu katanya.

Mbok Pariyem mengelus dadanya dengan berlinang air mata ia melihat gerejanya yang megah dan berdoa “Gusti sayektosipun meniko sadoyo berkat punopo laknat”[4]. Meskipun demikian dia masih pergi ke gereja setiap minggu karena ia sudah punya terompah dari hasil tabungannya. Dia duduk dipojok belakang sambil berharap pak Wiro dan mbah Dhinah hadir pagi ini.


[1] Cendol khas Jawa, menggunakan tepung beras dan air gula merah.[2] Adalah jembatan kecil, sedangkan jembatan besar biasanya disebut kreteg.[3] Kidung Jemaat.[4] Terjemahan bebas: “Tuhan sebenarnya ini semua berkat atau kutuk ?”.

5 Komentar

  1. sigid said,

    Oktober 4, 2007 pada 2:27 am

    “Gusti sayektosipun meniko sadoyo berkat punopo laknat”

    Berkah atau bukan yah😕
    Aduh, apakah makna gereja udah mulai berubah tanpa disadari😦

  2. cbodho said,

    Oktober 4, 2007 pada 2:43 am

    Maturnuwun mas Sigid telah sudi mampir di gubug CB yang reot🙂. Itu hanya keprihatinan CB terhadap gereja akhir2 ini. Yang dengan mudah mengusung budaya dan perilaku ‘dunia asing’ tanpa kontekstualisasi yang memadai.

  3. sigid said,

    Oktober 4, 2007 pada 3:08 am

    Saya jadi ingat waktu dulu melihat perselisihan anggota perkumpulan kaum muda dan sejak saat itu hingga sekarang menjadi tidak tertarik bergabung dalam kegiatan kaum muda. Waktu itu saya tidak melihat sosok perkumpulan jemaat melainkan organisasi. Mungkin saya yang salah sebenarnya dan rugi sendiri karena melewatkan semua kegiatan itu.

  4. anita day said,

    Februari 18, 2009 pada 2:06 pm

    Saya trenyuh juga mbaca cerita di atas. Jadi teringat Mbah putri saya mendiang, yang walaupun telah “Nderek Gusti” nggak mau diajak bergereja karena merasa gereja itu tempatnya orang pinter-pinterr. Simbah yang buta huruf merasa tidak punya tempat dalam gedung gereja di mana untuk bisa nyanyipun harus bisa membaca. Namun dia tetap setia “Nderek Gusti”. Tantangan yang dihadapi gereja di atas itu sangat universal, karena mau atau tidak dikala terjadi suatu pergesaran, baik pergesaran budaya ataupun pergantian generasi, pasti ada yang akan “tersisih”. Kalau gereja tidak berkembang sesuai dengan jaman (tentunya tanpa meninggalkan ajaran Kristus) maka kaum muda yang akan termarginalisasi dari gereja. Kalau gereja itu punya sumber daya yang cukup, untuk memberi “tempat” pada generasi lama ini, mungkin mereka bisa mengadakan beberapa kebaktian yang berbeda di hari Minggu. Misalnya kebaktian pagi berbahasa Jawa dengan iringan musik yang sesuai, kebaktian siang adalah kebaktian umum, dan kebaktian sore untuk kaum muda. Well, semoga Tuhan memberkati kita semua menghadapi hidup di akhir jaman yang memang semakin sulit.

  5. Cah Bodho said,

    April 6, 2009 pada 7:41 am

    Buat mbak Anita,
    Permasalahanya bukan sekedar tua-muda namun bagaimana perubahan itu tidak menggilas melainkan memberdayakan segenap umat termasuk ‘eyang putri’ sampeyan itu.

    Selamat bergumul dan berjuang
    CB


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: