Tafsiran Perkataan Yesus

Seorang murid seminari yang sangat pintar bermaksud menulis tafsiran perkataan dan perbuatan Yesus dalam tugas akhirnya. Dia menabung dan menghubungi para donatur untuk karyanya ini. Maka ketika  dana itu telah terkumpul ia pergi ke suatu desa yang miskin dan gersang di Kabupaten Gunung Kidul dan menyewa rumah di sana untuk memulai tulisannya.

Suatu pagi ia mendengar sepasang suami-istri sedang bertengkar diiringi tangisan anaknya. Rupa-rupanya sang anak ini sedang kelaparan. Maka ia mengambil sebagian dari uangnya untuk keluarga ini. Mendengar kebaikan sang mahasiswa, maka berbondong-bondonglah penduduk sekitar untuk meminta bantuan. Melihat hal ini dia memutuskan untuk mengkaji mengapa rakyat disitu kekurangan makanan. Setelah berfikir masak-masak dia memutuskan untuk membelanjakan seluruh sisa uangnya untuk membuat sebuah sumur artesis untuk pertanian. Rakyat di situ akhirnya tertolong. Namun ia telah menghabiskan separoh dari waktu yang diberikan oleh gurunya, tanpa menulis satu kalimatpun.

Karena uangnya habis ia kembali ke kota untuk menghimpun dana, setelah terkumpul ia mengambil tempat lain di perkampungan nelayan di kepulauan Seribu. Belum sempat dia memulai tulisannya dia sudah melihat beberapa hal yang perlu dilakukan untuk anak-anak usia sekolah ditempat itu, juga para nelayan yang terjerat oleh para tengkulak dan tauke dari Jakarta. Melihat hal itu ia merencanakan untuk mendidik masyarakat disitu. Akhirnya dia menghabiskan uangnya untuk mendidik anak-anak juga  para nelayan agar tidak terbelit oleh para tengkulak. Ia menghabiskan waktu disitu cukup lama. Hingga batas penyerahan karya akhirnya sudah habis sudah, tanpa satu kalimatpun ia tulis.

Akhirnya dia menghadap kepala seminari dan dengan pasrah ia berkata: “Bapa saya sudah menghabiskan waktu saya tanpa menafsirkan satu katapun dari sabda Yesus”. Kemudian dia menceritakan apa yang dia lakukan selama ini.

Sang Guru berdiri menepuk pundak sang murid katanya: “Jangan sedih anakku, sesungguhnya engkau sudah berhasil menafsir intisari dari ajaran dan sabda Yesus anakku”.

Nas:
Seorang murid yang baik akan melakukan apa yang gurunya lakukan dan bukan sekedar mengingat perkatan-perkatannya (Band. Mat 7:21)

2 Komentar

  1. sigid said,

    Oktober 9, 2007 pada 1:59 am

    Sepertinya penafsiran yang benar justru seperti itu ya. Baru-baru ini di “donya blog” sedang hangat diskusi apakah Yahudi, Nasrani, Bunda Theresa adalah kafir. Semuanya datang dari penafsiran. Jika saja lebih banyak orang memiliki penafsiran seperti murid seminari diatas. Dunia jadi nyaman🙂

  2. 3uPun5u said,

    Oktober 31, 2007 pada 12:53 am

    Setuju mas …. makanya diperlukan orang2 seperti mas Sigid dan Pak Dhe CeBe ini …. pokoknya mantap kedalam dan lentur keluar seperti taichi gitu dech.

    Salam Kenal


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: