Allah Tri Tunggal – Bagian III

  (Ke bagian 2)

E. PANDANGAN2 SALAH MENGENAI TRI-TUNGGAL

Akibat upaya penyederhanaan atau penolakan atas sebagian/lebih dari fakta-2 di atas akan menyebabkan penyimpangan sbb:

  • Penolakan atas point #1 demi penekanan point ke #3 menghasilkan faham modalisme. Faham ini percaya hanya satu Allah yang esa, hanya saja Allah yang esa ini berganti-ganti peran, kadang sebagai Bapa, kadang sebagai Anak dan kadang sebagai Roh Kudus. Ketika menjadi Anak, maka Bapa dan Roh Kudus tidak nampak. Hal ini dimulai oleh tokoh Sabellius.

  • Penolakan atas keilhaian Anak dan Roh Kudus (point #2) akan jatuh kepada faham subordinasisme. Pandangan ini dimulai oleh Arius (uskup Alexandria), sehingga faham ini sering disebut dengan arianisme. Pada era sekarang pengikut pandangan ini diwakili oleh saksi Yehova.

  • Penolakan atas keesaan Allah (point #3) akan menyebabkan kepada faham triteisme.

F. HUBUNGAN ANTARA ‘PRIBADI-PRIBADI’ TRI-TUNGGAL[1]

Perlu dicatat bahwa pembedaaan ‘pribadi-pribadi’ Tritunggal telah ada sejak kekekalan. Hal itu melukiskan hubungan antara ‘pribadi-pribadi’ ketiga-Nya khususnya berkaitan dengan karya ketiga-Nya atas ciptaan-Nya.  Secara ontologis (being, hakekat) ketiga ‘pribadi’ tersebut adalah sederajat namun secara ekonomis (tugas, peran) maka ‘terlihat’ seolah-olah ada subordinasi. Hal ini terekam dengan istilah sang Firman disebut dilahirkan, Roh Kudus keluar. Sang Anak diutus oleh Bapa dan Roh Kudus diutus oleh Sang Anak.

Subordinasi tidak secara otomatis berimplikasi kepada perbedaan esensi (ousios) antar ‘pribadi’.

Catatan : Dalam tradisi Yahudi kehadiran Allah baik Memra maupun Shekinnah sering mendapat personifikasi, demikian pula dengan hikmat (seperti yang ditulis dalam kitab Amsal).

Daftar Pustaka:

  • Arkhimandrit Daniel Bambang Ph.D. Allah Tritunggal, Satya Widya Graha, Jakarta. 2001.
  • Darmaputera, Eka. Sepuluh Perintah Allah MUSEUMKAN SAJA. Yogyakarta: Gloria Graffa, 2005.
  • Lohse, Bernhard. Pengantar Sejarah Dogma Kristen, terj. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001.
  • Grundem, Wayne. Bible Doctrine – Essential Teachings of Christian Faith. Grand Rapids, Michigan: Zondervan publishing House, 1999.

[1] Ibid. 115-117.

5 Komentar

  1. sigid said,

    November 13, 2007 pada 8:47 am

    Om, tulisannya semakin berat saja:mrgreen:

  2. 3uPun5u said,

    November 13, 2007 pada 9:49 am

    Kalau dibaca dengan kening berkerut ya berat dik. Tetapi kalau dibaca sambil minum dhawetnya mbok Pariyem yaa biasa wae. Berteologi itu bukan sekedar upaya kognitif semata melainkan lebih ke arah relasional antara kawula-gusti. Untuk hal ini saya haqrul-yakin den mas Sigid lebih mendalami ha-ha-ha.

  3. sigid said,

    November 14, 2007 pada 3:16 am

    @ 3uPun5u

    Waduh bapak, kalau saya wasis tentang relasi kawulo-gusti pasti sekarang sudah hidup damai, gumbira ria dan tidak jatuh bangun dalam dosa:mrgreen:
    Sementara kalau mau bertelogi saya juga tidak berbakat dan biasanya jadi bingung. Karena itu tulisan-tulisan om CB seperti “Mbok Pariyem nDherek Gusti” atau “Tafsiran Perkataan Yesus” itu sangat menarik menurut saya.

  4. thonnych said,

    September 18, 2009 pada 7:56 am

    saya bacanya sambil fitness om. berat banget.🙂

    • cbodho said,

      September 21, 2009 pada 1:10 am

      Kalau sambil fitness itu artinya terlalu ringan dong, wong saya sendiri bacanya sambil alis berkerut dan berdoa (mohon kekuatan) situ malah bisa baca sambil angkat barbel he-he-he.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: