Engkau Tidak Mendengarkan Aku

Hasil rapat pleno majelis memutuskan untuk merenovasi gedung gereja serta memperluas teras depan. Dana yang dibutuhkan kurang lebih seratus juta rupiah. Salah seorang anggota majelis termuda mengusulkan bagaimana jika anggaran tersebut ditambahkan menjadi seratus juta duaratus lima puluh ribu rupiah. Belum selesai ia menjelaskan penggunaan tambahan anggaran tersebut, seorang penatua yang telah menjadi anggota majelis selama lima periode menyela “Saya pikir dana tersebut sudah cukup, dan kita tidak perlu menambahi beban jemaat”, katanya. Maka rapat ditutup dengan keputusan itu.

Setelah berjalan tiga bulan, pembangunan gedung gereja itu selesai sudah. Tiba waktunya akan diadakan kebaktian perdana dan pengucapan syukur. Ketua Majelis Jemaat yang merangkap ketua panitia pembangunan berdoa demikian “Tuhan Allah kami mengucap syukur karena kami sudah boleh membangun rumahMu ini kiranya engkau berkenan diam dan menyatakan kerajaanMu dibaitMu ini”. Maka jemaatpun mengaminkan dengan sepenuh hati.

Ketika dengan khusuknya jemaat berdoa dan menaikan doa-doanya. Terdengar suara “Geubrakkk, kretek …. Kretek …. Braakkkkk”. Bagian depan gereja yang baru dibangun roboh diseruduk oleh sebuah truk semen yang oleng. Beberapa jemaat menuding dan memarahi sang supir dan keneknya, karena kelalaian mereka.

Namun  Gembala sidang dan Majelis Jemaat menenangkan jemaat katanya dengan arif: “Sudahlah pasti ada maksud Tuhan dibalik semua ini … mari kita tanyakan kepada Tuhan mengapa Tuhan membiarkan hal ini terjadi”. Dan Jemaatpun mengaminkan dalam hati dan dalam doa syafaat mereka.

Pada malam harinya sangat aneh pak pendeta dan Majelis Jemaat kecuali anggota termuda yang dianggap “anak bawang” kemarin, bermimpi bertemu Tuhan dengan menjawab doa mereka “Mengapa kejadian tadi pagi boleh terjadi”. Dalam mimpi itu Tuhan menjawab demikian “Kalian tidak mau mendengar usulanKu untuk menambal jembatan depan gedung gereja yang biayanya tidak lebih dari duaratus limapuluh ribu rupiah saja” katanya masghul.

Tuhan mampu berbicara melalui siapapun dan apapun. Tidak peduli apakah orang dan sesuatu tersebut pantas atau tidak untuk dipakai. Dengan lima roti dan dua ikan dari seorang anak Yesus mengenyangkan limaribu orang lebih.

5 Komentar

  1. surjo sulaksono said,

    November 19, 2007 pada 4:26 am

    ke kali jodo naik sekuter
    dulu bodho sekarang pinter

  2. Alicia said,

    November 19, 2007 pada 4:46 am

    Terima kasih atas renungannya, sangat menyadarkan.

  3. sigid said,

    November 19, 2007 pada 6:26 am

    Engkau Tidak Mendengarkan Aku

    Mungkin kita sibuk mendengarkan ego dan kelekatan duniawi kita om😀

  4. cbodho said,

    November 19, 2007 pada 8:08 am

    @ Surjo Sulaksono
    -> Gak pernah ke Kalijodo Oom … Jauh dari rumah, lagian naik busway atuch.

    @Alicia
    To God Be The Glory …. Sering2 mampir saja, semoga CB ada waktu untuk main oert2an

    @Sigid
    Sang Guru pernah besabda, ditengah keheningan “makna” itu hadir.

  5. sumardiono said,

    November 28, 2007 pada 12:01 am

    “Tuhan bisa menyampaikan pesan melalui siapapun, dan tugas kita adalah selalu waspada dan membuka diri atas pesan-Nya….” Terima kasih mas atas pencerahannya…🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: