Tokoh2 Antagonis

Tentu kita sering nonton film bukan? Umumnya bagi kita akan cenderung memihak tokoh protagonis (jagoan, pembela kebenaran dlsb.) ketimbang tokoh antagonis (jahat, penindas).

Tak jarang Aklitab juga menampilkan kedua tokoh tsb. Misalkan Kain-Habel, Yakub-Esau, si Sulung-si Bungsu dlsb. Entah bagaimana mulanya, secara tak sadar kita dicekoki oleh ajaran bahwa sang tokoh antagonis itu begitu buruknya sehingga tidak nampak kebaikannya sama sekali. Dengan demikian secara tak sadar kita sering membela sang protagonis meskipun dia melakukan pelanggaran moral dan melakukan penindasan terhadap sang antagonis. Tak jarang kita melakukan pembenaran dengan dalih Allah membiarkan / menghendaki hal itu.

Sebagi contoh:

Yakub-Esau:

Sampai di mana juga secara etis dan moral Esau jauh lebih gentlemen ketimbang Yakub. Yakub, sudah merampas hak dengan konspirasi bersama ibunya (Kej 27:1-46). Kemudian berusaha menyogok dan merayu dengan mengorbankan orang lain (budak, anak-anak, para selir). Ech masih takut dan curiga ketika Esau sudah dengan tulus mengampuninya. Lha kok Yakub sebagai pahlawan dan bukan Esau.

Yudas:

Apa iya demi 30 keping perak ia mengkhianati Yesus ?? Kalau iyaa kok waktu nyesel uangnya dibuang?? Apa nggak ada alasan yang lebih mulia. Udah gitu kalau nggak ada Yudas gimana ya kita. Tetapi khan musti ada “Yudas” meskipun dengan nama lain. Kita sering menghina orang dengan umpatan “Dasar Yudas loe”. Orang Jawa akan bilang: “Pirang boro ono sing nglakoni”. Masih untung ada yang memerankan itu, lha kalau kita gimana ??

Si Sulung:

Kalau kita kerja keras terus adik kita yang badhung menjual rumah hasil menabung apa nggak pengin gaplok dia ? Pantas dong si Sulung menolak si Bungsu ….. Kita sering melupakan nasib si Sulung karena si Bungsu itu gambaran diri kita …. (Nantikan tulisan CB yang berjudul “Sulung yang sesungguhnya“).

Akh masih banyak lagi contoh-contohnya …. para pendeta/teolog serta pemimpin PA lebih tahu itu …

Kapan yaa kita mulai berfikir untuk membela Yunus (yang menolak u/ pergi), Yudas yang harus di cap pengkhianat ? Kapan kita berani memberi penilaian kritis terhadap Abraham, Daud, Salomo, Petrus, Paulus ….. Jika kita berani melakukan hal itu, saya yakin kita akan semakin rendah hati dan semakin mengerti makna “Sola Gratia”.

10 Komentar

  1. November 26, 2007 pada 10:11 am

    Ada doktrin seperti itu. Karena kebanyakan tokoh antagonis diberi peran yang enggak ada baik – baiknya.

    Makanya saya lebih suka menonton film dimana peran antagonis pernah membantu protagonis. *TIlik Harry Potter 7*🙄

  2. sigid said,

    November 27, 2007 pada 3:11 am

    Entah bagaimana mulanya, secara tak sadar kita dicekoki oleh ajaran bahwa sang tokoh antagonis itu begitu buruknya sehingga tidak nampak kebaikannya sama sekali.

    Mungkin memang karena persepsi sering menghalangi kita untuk melihat orang lain sebagaimana adanya. Dalam hal ini adalah persepsi tentang “Antagonis”. Seperti jika kita memakai kacamata berwarna biru, semua hal di sekeliling ita tampak kebiru-biruan namun warna aslinya kita tidak tahu kecuali kita melepaskan kacamata itu.
    Mungkin memang kita harus melepaskan persepsi dan konsep untuk melihat lebih jelas. Namun, sebaiknya kita tetap menjaga supaya “kepolosan” yang kita bangun tidak membuat kita tertipu.

  3. cbodho said,

    November 27, 2007 pada 4:48 am

    @Mihael
    namanya juga antagonis mas … sayang kadang pembagian peran itu tidak berimbang. Seandainya mereka tahu betapa perlunya kedua peran itu ala Yin-Yang Theology

    @ Sigid
    Bukan “mungkin” lagi mas … hampir merupakan kepastian. Illustrasi kacamata itu sangat menarik. Ttp saya lebih suka warna merah. Itu saya gunakan untuk melukiskan karya pendamaian Allah menurut teologi Paulus. Sayang tidak dapat saya upload ke dalam blog ini, terlalu panjang …. Senang melihat mas Sigid sering nengok gubug reyot CB yang tiudak terawat ini ….

    Salam.

  4. November 27, 2007 pada 7:35 am

    Peran antagonis-protagonis itu sifatnya sesaat. Artinya seseorang bisa di suatu masa menjadi antagonis, tapi kemudian menjadi protagonis. Itu namanya pertobatan. Eh… bener ga sih? Hehehe…

    Salam.

  5. sumardiono said,

    November 28, 2007 pada 12:06 am

    Saya sedang belajar, bahwa kebenaran-Nya itu memang berjenjang-jenjang, ada pilihan-pilihan yang seringkali tak mudah. Semoga Tuhan selalu menguatkan kita agar membuat pilihan yang terbaik di mata-Nya. Amin…🙂

  6. dony said,

    Januari 12, 2008 pada 3:37 pm

    Jika kita tidak melihat suatu pembanding hal baik atau hal buruk .
    maka kita tidak akan tahu apakah suatu hal itu baik atau buruk.

    -Maka untuk itulah diperlukan tokoh antagonis untuk suatu pembanding tentang suatu nilai kebenaran.

  7. Kandar Ag. said,

    Januari 24, 2008 pada 4:44 am

    Pak Harto (mantan presiden RI) oleh beberapa orang ditampilkan sebagai tokoh protagonis, namun oleh beberapa orang lain lagi ditampilkan antagonis. Mana yang benul, eh betar, eh benar… hayou?
    Kayaknya tergantung siapa yang bersaksi tentang Pak Harto, deh.

    Lha, siapakah yang nulis cerita dan kisah dan laen-laennya dalam Kitab Suci itu? Namun, yang utama pasti dengan imannya mereka itu mau menyampaikan kesaksian tertentu tentang nilai-nilai Kerajaan Allah.

    Hehehe…Mas CB, jadi ada peluang dan tantangan ya, bagi seseorang untuk menggali nilai-nilai Kerajaan Allah melalui tokoh-tokoh yang sudah terlanjur dikesankan sebagai tokoh antagonis itu…. Pasti deh, akan banyak yang ingin membacanya!

    Salam kenal!
    God bless!

  8. cbodho said,

    Januari 24, 2008 pada 5:37 am

    @ Mas Dewo
    Iya mas antagonis-protagonis sifatnya temporer. Ttp karena sdh kesengsem apa yang dilakukan (meskipun kadang menerjang nila2 universal) oleh sang Protagonis tetaplah dinilai Protagonis.

    @Sumardiono
    Silahkan teruskan “Ngupadi jatining kayekten” mas, hanya satu modal kok “keterbukaan dan kewaspadaan” keduanya harus berimbang bak Yin-Yang.

    @Dony
    Klo begitu apakah setiap nilai itu relatif mas ??

    @Kang Kandar
    Betul itu yang Oom Vantill katakan “presuposisi” dari penutur. Ttg peluang dan tantangan itu bagaikan Yin-Yang juga. Keduanya ada bersama tanpa saling meniadakan.

    Moga2 saya bisa menjawab tantangan sampeyan. Salam kenal Juga

    Salam
    CB

  9. anita day said,

    April 28, 2009 pada 12:50 pm

    Saya pribadi tidak pernah melihat Esau, Si Sulung bahkan Yudas sebagai tokoh antagonis. Esau (tokoh nyata) dan si Sulung (fiksi – dari parable Yesus) dipakai Tuhan untuk menunjukkan kepada manusia kepada siapa anugrah penyelamatan itu (everybody). Kamu tidak harus segagah dan sejujur Esau, atau serajin dan sesetia si sulung untuk menerima anugrah Tuhan ataupun dipakai Tuhan dalam pekerjaanNya. Orang yg pernah meninggalkan kemulian Allah pun (si bungsu) akan diterimaNya kembali kalau bertobat.

    Kalau Yudas,…saya pernah baca bahwa Yudas adalah bagian dari the Macabee. Dia percaya Yesus itu Mesias yg dijanjikan Allah yg akan membawa kemuliaan bg bangsa Yahudi lepas dari tangan Roma. Kelemahlembutan Yesus mengecewakannya. Lalu dia mendapat ide untuk “memaksa tangan Yesus”. Harapannya kalau Yesus ditangkap, dia akan melawan lalu angkat senjata dan memimpin perjuangan orang Yahudi.

    Tapi maaf ya Mas, kalo pendapat saya sederhana. Saya tidak pernah belajar teologia secara khusus setelah lulus dari “sekolah minggu”. Mohon sumbangan pendapat dan koreksi dari yg lebih tahu. Jesus be with you.

    • cbodho said,

      April 29, 2009 pada 12:57 am

      Tokoh2 tersebut dilabelkan sebagai yang ‘antagonis’ bagi kalangan maian-stream. Makanya saya coba ‘memberi’ pandangan pengimbang lah seputar hal itu.

      Klo pandangan mengenai Yudas, bahwa dia mungkin dari Macabbean atau Zelotis boleh2 saja, berpandangan demikian. Namun hal itu tidak terlalu lemah, karena Injil2 mencatat dia agak tamak terhadap uang.

      Hal ini juga memenuhi nubuatan bahwa Yesus akan dijual dengan 30 keping perak, yang dikaitkan pula dengan tanah hasil pembelian dengan uang tersebut akan disebut sebagai tanah darah alias ‘hakal dama’.

      Kecuali kalau kita berfikir bahwa teks2 PL-PB ttg nubuatan itu hasil konspirasi para penulis.

      Klo aku nggak mau dan gak berani berfikir demikian.
      Salam
      CB


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: