Indahnya Keluarga (6) – Doa Jujur sang Panengah

Membesarkan tiga anak laki-laki dengan rentang usia yang tidak begitu jauh (12 th, 9 ½ th. dan 7 th) memang tidak mudah. Apa saja selalu menjadi bahan perdebatan di antara mereka. Dari rebutan mainan, koran, majalah, saluran TV, komputer bahkan tempat duduk baik di meja makan maupun di ruang tamu. Tak jarang hal itu membuat acara tertentu menjadi terganggu. Hal ini terjadi kembali pada acara Kebaktian Tutup Sabat kemarin (09/12/2007).

Saya dan Istri sudah duduk di ruang tamu di mana kami biasa melakukan kebaktian dan doa bersama. Anak-anak masih nonton kartun kesayangan mereka. Lantas kami memanggil “Anak-anak, ayo waktunya tutup Sabat”, dengan enggan si Sulung mematikan TV (mereka memang enggan menutup Sabat, soalnya akan kembali memasuki hari kerja🙂 ). Karena bermalas-malasan maka kursi yang biasa diduduki oleh si Sulung di gunakan oleh Si Bungsu. Di situlah perdebatan sengit dimulai. Yang satu merasa itu tempatnya sedangkan yang lain merasa dia terlebih dahulu menduduki kursi tersebut.

Mamanya yang ingin menengahi pun akhirnya terlibat dalam sengketas Sulung-Bungsu. Karena si Sulung berbakat sebagai diplomat dan pengkhotbah, maka tidak terlalu lama mamanya sudah kehilangan argumen. Tinggal kemarahan seorang mama dan tangisan si Bungsu. Karena tidak mau terganggu persiapan kebaktian saya dan Panengah menyingkir ke ruang keluarga. Akhirnya ada ide, dan berkata “Kalian berdua (pihak2 yang bersengketa) selesaikan masalah kalian, kami bertiga akan menutup Sabat”. Kami tutup pintu kamar dan minta Panengah berdoa.

Ia berdoa dengan agak tergagap namun puitis dan penuh makna. “Tuhan tolong kami …” teriaknya dalam doa berulang2. “Kembalikan damai sejahtera dan kebahagiaan kami …” lanjutnya. Kami tertegun dan mendapat pencerahan, damai sejahtera dan mendapat hikmat bagaimana melanjutkan acara Tutup Sabat ini.

Akhirnya kami kembali ke ruang tamu dan mencari beberapa akar masalah hubungan kakak-adik yang seharusnya. Kakak mengasihi adik dan adik menghormati kakak. Akhirnya masalah selesai dan kami memulai kebaktian. Nats yang kami bahas dari Surat Ibrani membuat si Bungsu terhenyak dan menangis tersedu-sedu (merasa telah menyalibkan Tuhan kembali), disusul pelukan sang Kakak yang menangis. Akhirnya kami bermaaf-maafan dan menyanyikan kidung favorit kami:

Hari Minggu, hari yang mulia, itu hari Tuhan ku.

Ia datang bawa sukacita, masuk dalam hatiku

Reff:
Hari Minggu, hari Tuhan, hari suci dan teduh )2X

Hari Minggu hari istirahat bagi badan yang letih.

Firman Tuhan turun bawa hikmat bagi hati yang sedih

Reff:
Hari Minggu, hari Tuhan, hari suci dan teduh )2X

Sabbath Shallom!

1 Komentar

  1. sigid said,

    Desember 27, 2007 pada 7:01 am

    Sugeng Natal njih pakde mas CB😀
    -Gusti Tansah mBerkahi-


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: