Teks itu mati, penafsir yang menghidupkan.

Dalam dunia hermeneutik dikenal frasa di atas. Contohnya simpel saja. Selesai rapat pengerja gereja yang berakhir jam 23:30, saya diminta untuk menutupnya dalam doa. Berikut ini penggalannya:

Ya Kristus tuan dan Tuhan yang kami layani, ampunilah kami sebab:

Kami orang-orang yang engkau percayai ternyata tak layak untuk dipercayai.

Kami yang engkau sebut pengikut ternyata tidak menapak kepada jejak yang engkau buat.

Kami yang menyebut engkau guru dan Tuhan namun tidak meneladani Engkau.

Kami tidak mampu berkorban secuilpun pada hal kami sedang memperingati pengorbanan-Mu.

Tuhan Ampuni kami, Kristus ampuni, Tuhan ampuni kami …

Dalam nama-Mu kami berdoa. Amin

Coba anda-anda tafsirkan apa maksud saya dibalik penggalan kalimat2 saya tersebut, di samping mohon pengampunan dosa tersebut??. Saya yakin 1010 % tafsiran anda pasti beraneka ragam … karena teks tersebut mati pada dirinya sendiri. Anda-anda sebagai penafsirlah yang memberi (menghidupkan) makna teks-teks tersebut.  Bagi teman2 yang melihat latar belakang (peristiwa yang mendahului doa tersebut) pasti akan memberi penafsiran yang relatif lebih akurat dibanding sekedar membaca teks-teks tersebut. Bagi yang tidak tahu, sangat meungkin penafsirannya jauh panggang dari api. Apalagi yang tidak mengenal siapa CB.

Gak percaya ?? Silahkan coba!! Selamat menafsir.

12 Komentar

  1. sigid said,

    Februari 5, 2008 pada 2:26 am

    He he, udah lama ndak mampir sini pak de :mrgeen:
    Hampir sebulan penuh offline

    Teks itu mati, penafsir yang menghidupkan.
    Kita bicara apa ya ini mas, bible?
    Tafsirnya itu pasti bukan yang konseptual to pak de, tapi tafsir seperti yang diceritakan njenengan di tulisan Tafsir Perkataan Yesus
    Gitu yah😕

  2. cbodho said,

    Februari 5, 2008 pada 2:37 am

    Semua teks mas Sigid… termasuk teks2 suci dari tradisi agama-agama mana pun juga. Aku belum ngeh maksud sampeyan tafsir konseptual … kalau yang njenengan maksud adalah tafsiran dogmatis … itu pun tak luput dari ketergantungan dari penafsir itu sendiri.

    Maturnuwun telah sudi mampir lagi …
    Salam

  3. Daniel Zacharias said,

    Februari 5, 2008 pada 5:57 pm

    Pengertian teks Alkitab tidak bisa dilihat sebagai sebuah catatan atau rekaman peristiwa. Teks tersebut terbaca atau tidak, ditafsirkan atau tidak, dipahami atau tidak, tidaklah mati. Karena secara teologis teks itu adalah Firman Allah, atau berdasarkan inspirasi Allah. Tanpa penafsir teks tersebut hanya tidak dimengerti tetapi tidak mati, karena teks tersebut mengandung kuasa. Herannya, ketika teks ditafsirkan tetapi orang yang menafsirkan kemudian mengerti tetapi tidak melakukan, maka hal tersebut menunjukkan itu bukan soal ditafsirkan atau dipahami, tetapi terletak pada kerinduan amat sangat untuk mengkaji terus presuposisi seorang ketika membaca teks tersebut. Tulisan anda saya pikir baru dalam tahap beropini dan presuposisi jadi aman-aman saja dan saya tak perlu panik selama belum jadi konklusi teologi …

  4. cbodho said,

    Februari 6, 2008 pada 1:17 am

    Seneng boksu berkenan mampir …
    Kalau dengan presuposisi bahwa Alkitab adalah Firman Allah maka saya setuju pandangan boksu. Akan tetapi jika dilihat dari ‘sudut netral’ -pada hal gak ada yang netral🙂 – maksud di luar bingkai teologi kristen maka teks tetaplah teks. Sampeyan mau tafsirkan apa yaa manut saja.

    Namun ketika tafsiran itu diimani sebagai kebenaran maka kuasanya jadi nyata dan mampu mengubahkan. Mengubahkan seorang CB yang ‘sok pinter’ -hingga ikut katekisasi saja 3 tahun – menjadi takluk, dan mengarahkan seorang DePe untuk menejadi pelayan-Nya.
    Tabek!

  5. Daniel Zacharias said,

    Februari 6, 2008 pada 2:28 am

    Bisa gak memandang Alkitab di luar bingkai teologi? bukankah di luar bingkai teologi dia cuma sebuah buku yang secara ekonomis menguntungkan karena dicetak terus-menerus dan dipesan terus-menerus, atau cuma sebuah kumpulan dokumen dari orang di masa lalu. Ngomong-ngomong mengenai penafsiran, maka sebebas-bebasnya dia menafsir mesti ada garis yang terbentang yang bisa menyatakan bahwa tafsirannya kurang pas atau keliru, sebab kalau ada kebebasan yang berlebihan dalam penafsiran maka bisa jadi teks tersebut keluar dari maksud-Nya semula sebagai “penutur bisu” yang primer.

    Daniel Zacharias

  6. cbodho said,

    Februari 6, 2008 pada 2:47 am

    Di luar bingkai teologi Kristen ? Bisa saja tho … itu para pengkritik, para penulis novel menafsir alkitab menurut versi mereka. Sampeyan benar di luar bingkai teologi Kristen (dengan produk turunanannya🙂 Alkitab hanya bernilai ekonomis bagi percetakan dan pengarang buku.

    Saya setuju menafsir itu musti ada jalur yang memagarainya, jika hal itu dalam bingkai teologi Kristen. Di luar kaidah2 hermenutik yang proper maka tafsirannya akan melenceng kemana2 jauh dari maksud teks itu sendiri …

    Senang bisa diajak berdiskusi dengan Boksu Daniel,

    CB

  7. sigid said,

    Februari 6, 2008 pada 6:28 am

    Ups, kayaknya saya terlalu awam dalam diskusi ini😀

    Eh, iya pak de CB, maksud saya penafsiran dogmatis.
    Mungkin pikiran saya ini dangkal, namun dalam gambaran saya, penafsiran dogmatis hanya berputar-putar dalam pikiran orang bersangkutan saja.
    Namun tidak otomatis buah pikiran dan perbuatan yang dihasilkan sesuai.
    Dan kadang ada juga yang sebenarnya justru bertentangan dengan apa yang menjadi penafsiran dia.

    Tapi sebagai orang awam, kok justru yang masuk akal bagi saya pendapat pak de CB itu bahwa teks itu mungkin mati. Dan jika ada yang menganggap alkitab itu buku suci, maka bukan benda (kertas dan tinta) itu yang suci namun apa yang terkandung di dalamnya.

    Nyambung ndak yah ini pak de😕

  8. sigid said,

    Februari 6, 2008 pada 7:27 am

    Dan, tanpa penafsiran sepertinya teks yang menjadi kalimat-kalimat di bible akan tampak seperti narasi.

    Gitu ndak to

    *melarikan diri*

  9. cbodho said,

    Februari 6, 2008 pada 8:03 am

    Mas Sigid,

    Mengenai penafsiran dogmatis, seharusnya berkorelasi langsung dengan sikap hidup (berpikir dan bertindak) orang ybs. Misalnya saya dengan pemahaman Calvinist yang sering ‘disetan2kan’ orang karena doktrin predistinas-nya. membuat saya justru dapat menerima konsep sola gratia lebih mendarat.

    Anda sepenuhnya benar dari ‘presuposisi saya’🙂 Alkitab berisi narasi-narasi yang merupakan refleksi iman para penulisnya yang didalamnya Allah berkenan mewahyukan diri-Nya. Itu menjadi bahasa teologi “Alkitab adalah Firman Allah”.

    Salam
    CB

  10. Daniel Zacharias said,

    Februari 13, 2008 pada 2:44 am

    Presuposisi ehm???

    ikutan sigid melarikan diri😎

  11. Esther LS said,

    Februari 15, 2008 pada 2:33 am

    Kulonuwun…maaf mampir di sini dan langsung tertarik ikutan🙂

    pengen coba menafsir langsung pada teks di atas:
    1. bisa ditafsir bahwa pendoa mengakui ketidak sempurnaan dalam mengikuti teladan Kristus, walau tidak berarti dia secara sengaja melanggarnya, oleh sebab itu mohon pengampunana dari Nya
    2. dalam rapat sebelumnya bisa saja terjadi beberapa debat yang menonjolkan keakuan pribadi-pribadi, atau demi keputusan bersama, ada beberapa hal yang dirasa kurang tepat menapak pada jejak Kristus, oleh sebab itu mohon pengampunan dari Nya agar bisa dikuduskan lagi, dan masing-masing pihak bisa merenungkan kekurangan masing-masing.

    itu dulu….pengen denger komentarnya…pengen belajar ne
    GBUs

  12. cbodho said,

    Februari 15, 2008 pada 3:34 am

    Nah ini baru jawaban yang sesuai dengan konteks tulisan yakni berusaha menafsir teks yang ada🙂. Dari jawaban mba Ester saja sudah terlihat ada dua kemungkinan. Belum kalau boksu Daniel, mas Sigid, Frater dan lain-lain memberi masukan maka hampir pasti tafsirannya bisa berbeda2. Ditunggu lho …

    Salam Kenal
    CB


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: