Valentine All The Time

Hari ini CB bangun tidur agak pagian, untuk sekedar mengecup, mengecap dan mengucap “Happy Valentine Day” kepada istri tercinta. Ternyata anak-anak melakukan hal yang sama. Sepanjang hari kemarin mereka bertiga didepan komputer membuat puisi cinta kepada papa-mamanya. Sayang filenya mereka password sehingga nggak bisa saya intip. Buat kejutan acara nanti malam katanya.

Di statsiun de La Concensa masih mendung, banyak orang membaca koran sambil menunggu kereta. Sambil membeli koran Tempo, aku melirik koran-koran lain. Aku terkejut paling tidak ada dua koran memuat berita bahwa ada beberapa kota yang melarang perayaan Valentine dengan ancaman hukum agama. Bahkan konon lembaga terhormat di negeri ini didesak untuk memberi fatwa larangan atau haram terhadap hari itu.

Aku termenung, tercenung dan bingung! Di era dunia yang sudah, sedang dan akan terus mengglobal ini masih ada ‘ancaman’ atas kebebasan pribadi untuk merayakan sesuatu yang secara hakiki baik, yakni merayakan hari kasih sayang. Kalau yang ditakutkan adalah ekses negatif dari perayaan tersebut seharusnya mereka dicerahkan dan bukan dibuat penasaran akibat adanya larangan.

Pagi ini ada beberapa e-mail yang nyangkut ke mail-box aku yang menanyakan seputar valentine. Diantaranya: (1)  Bagaimana sich berkembangnya perayaan hari ini? (2) Apa ada unsur ‘agama’ di balik semua itu? (3) Bagaimana merayakan Valentine tanpa melanggar aqidah agama? Dan yang paling menarik adalah (4) Bagaimana cara merayakan velentine bersama anak ….

Artinya apa ??… Umat sudah terlalu cerdas untuk ‘dibodohi’ atau ‘diancam’. Mereka akan go-ahead dengan atau tanpa adanya restu. Ibarat pepatah “Biarkan larangan menggonggong acara tetap berlalu”. Hanya saya kasihan saja dengan anak2 muda dan orang-orang yang pengin mengungkapkan cintanya harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi di dua kota yang memberikan sangsi kepada yang merayakan hari baik ini.

Saya yakin, nanti di tempat rendevouz CB dengan istri akan bertemu dengan mas Rahman beserta Istri, Mei Ling dengan pacarnya, Bung Togar dengan Itonya, anak2 ABG dan banyak lagi. Mereka adalah orang-orang yang memanfaatkan momentum baik ini untuk mengingat dan memperkuat ikatan kasih yang telah mereka ikrarkan tanpa harus menabrak norma. Norma-norma yang bersifat universal tentunya. 

Happy Valentine!

1 Komentar

  1. sigid said,

    Februari 14, 2008 pada 9:34 am

    Eh om CB, ada beberapa kawan di WordPress yang mengupas masalah Valentine sebagai salah satu perangkat “kristenisasi”. Bagi saya “kristenisasi” itu sesuatu yang absurd, tidak nyata. Terus terang saya ndak mbaca pembahasannya, rasanya jenuh dengan hal seperti itu. Diskusi yang kebanyakan selalu berakhir dengan debat kusir. Beberapa tahun lalu sempat dalam gabung dalam forum diskusi kristen-muslim, protestan-katolik, kristen-pagan dan yang saya dapat kebanyakan adalah debat kusir. Ternyata banyak saudara kita di indonesia yang belum bisa menerima perbedaan.

    Btw, hari kasih sayang kan berbagi kasih ya. Kalau Valentine all the time, berarti berbagi kasih all the time ya. Mauuuuu ……😐

    Ada coklatnya ndak ya:mrgreen:

    *kabur*


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: