Matius Temanku di Kereta

Matius Temanku di Kereta
(paradoksi Farisi-Pemungut Cukai)

Untuk pergi dan pulang ke/dari kantor saya naik kendaraan umum. Ternyata ada kenikmatan tersendiri naik kendaraan umum itu. Banyak kenalan, banyak pengalaman yang sangat memperkaya wawasan yang mustahil ditemui dan dimiliki oleh orang yang bermobil apalagi disopirin. Contoh berikut ini misalnya,

Sewaktu sedang menunggu kereta yang datang di sore hari, saya melihat seorang bapak seusia saya yang kelihatan sangat penat. Sebut saja namanya Matius (Mat). Saya mulai menyapanya:

CB: “Harga karcis kereta mau naik yaa pak .. Berapa ?” .

Mat: “Naik tiga ribu, menjadi tigabelas ribu” jawabnya dengan menerawang.

CB: “Semakin berat hidup ini yaa pak, semua naik tetapi penghasilan kita tidak” sambung saya ber-emphaty.

Mat: “Ya, apa lagi saya pak. Naik gaji hanya limapuluh ribu pertahun, saya bekerja mulai gaji satu juta. Saya telah bekerja sembilan tahun di perusahaan ini. Gaji saya sekarang 1.450.000” imbuhnya. “Terpaksa saya korupsi pak … saya jujur” katanya. “Bagaimana saya bisa menghidupi kedua anak saya dengan gaji tersebut”.

Mak Plek! Saya terdiam … kalau itu terjadi ketika saya mahasiswa maka saya akan nyerocos dengan ayat-ayat Alkitab dan menyajikan titah yang ke 8 dari Dasa Titah . “Jangan Mencuri”. Melihat saya menarik nafas panjang bapak ini melanjutkan percakapan.

Mat: “Saya korupsi waktu, saya mencuri waktu kantor (ketika tidak terlalu sibuk) untuk buat program dan menjualnya. Saya terpaksa melakukannya”.

“Oops, teman seprofesi” batinku sama-sama orang IT. Kereta datang dan kami naik bersama ngobrol ngalor-ngidul untuk menghibur atau mengelabuhi hati yang lara ini.

Dalam percakapan tadi, juga permenungan sepanjang perjalanan hingga mau tidur malam (juga saya sharingkan dengan istri), saya teringat perumpamaan Tuhan Yesus tentang hal berdoa (Baca Lukas 18:10-14). Dalam pengajaranNya Yesus mengambil dua tokoh yang sangat paradoks yaitu orang Farisi yang dengan gilang gemilang memenuhi standart hidup moral dan agamawi yang berlaku saat itu (ayat 11-12). Saya yakin Farisi ini jujur dan memang melakukan apa yang diomongkannya. Bahasa sekarang komitmen dan konsekwen terhadap aturan-aturan agama yang dianutnya.

Sebaliknya di sisi lain seorang pemungut cukai yang dengan sangat malu bahkan tidak berani menengadah ke langit harus mengakui dosa-dosa yang diperbuatnya karena profesi yang dia geluti. Doanya singkat “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” Yesus memaklumi orang ini dan membenarkannya.

Apa yang membedakan orang Farisi dan Yesus dalam narasi tersebut ? Orang farisi menghakimi tetapi Yesus memaklumi dan mengampuni. Orang Farisi menempatkan dirinya sebagai hakim atas sesamanya, tetapi Yesus menempatkan diri sebagai kawan bagi mereka yang terpinggirkan. Dan ini menjadi jalan hidup Yesus. Ia membebaskan perempuan pelacur yang hampir kena rajam karena melanggar hukum agama yang berlaku (Yoh 8:3-12). Bahkan Paulus dengan tepat menyimpulkan keberpihakan Yesus kepada kita yang lemah dan pendosa ini (2 Kor 5:21).

Si Farisi berbuat demikian dia karena tidak tidak pernah mengalami bagaimana hidup dan menjalani hidup sebagai orang “terbuang” dan “terpaksa”. Dia tidak pernah menempatkan dirinya sebagai orang-orang yang mereka kuliti, telanjangi dan hakimi segala kebobrokan dan ketidak becusan mereka menjaga hukum. But Jesus do. Karena apa ?

Seringkali kita menempatkan diri kita sadar atau tidak sebagai si Farisi, kita dengan mudah menghakimi sesama kita dengan dogma-dogma yang sangat kokoh dan kaku yang sudah tertanam dalam diri kita. Kita mampu dan tega melakukan itu tanpa empati karena kita tidak pernah mengalaminya. Kita yang terbiasa hidup cukup, rumah, mobil dan kantor ber AC tidak pernah mengerti makana kekurangan seperti temanku Matius tadi.

Pada hal kalau mau jujur tulisan ini, diskusi-diskusi kita di berbagai milis ini pun hasil ‘korupsi’ menggunakan fasilitas kantor (komputer, line telephone mungkin waktu kantor).

Sebenarnya saya harus menambahkan gatra “Kyrie Eleison ” ini dalam doa-doa saya:
Tuhan kasihani kami
Yesus kasihani kami
Tuhan kasihani kami

Catatan:
Di tulis ketika harga2 dan ongkos2 mulai naik akibat keniakan BBM yang tak terhindarkan kesekian kalinya (2005).

11 Komentar

  1. kabarihari said,

    Februari 18, 2008 pada 10:44 am

    kondisi kadang memaksa orang jadi kreatif ya pak, meskipun kadang kreatifitasnya itu sedikit bertentangan dengan agama.
    Kalo saya juga lebih memilih berbuat dosa sedikit daripada membiarkan anak istri kelaparan.

  2. pesuruh said,

    Februari 19, 2008 pada 4:03 am

    Tapi lebih baik jadi Farisi daripada Bea dan Cukai Indonesia….
    heheheeee….Welcome The Great Lent!!!

  3. sigid said,

    Februari 19, 2008 pada 10:23 am

    Hi hi, kadang saya juga pengin korupsi waktu yang ada hasilnya om, tapi bingung mau ngapain.
    Dan akhirnya, korupsi waktu buat nge-Blog😀

    kita dengan mudah menghakimi sesama kita dengan dogma-dogma yang sangat kokoh dan kaku yang sudah tertanam dalam diri kita

    Saya rasa itu benar, kadang “melihat” justru menjadi hal yang sulit dilakukan. Yah, melihat, hanya melihat, seperti halnya anak kecil, ndak sampai menilai sesama. Mungkin bagi anak kecil bunga tetaplah bunga, kambing tetaplah kambing, polos, tanpa cap dan label.

  4. cbodho said,

    Februari 20, 2008 pada 2:05 am

    @Pesuruh
    Mangkanya sang Guru pernah bersabda: “Kamu tidak akan melihat Kerajaan Allah, jika kehidupan kamu tak lebih dari orang Farisi”. Apa maksud Great Lent tadi mas.

    @Sigid
    Mangkanya sang Guru bersabda … “Jadilah seperti seorang anak kecil … “. Sampeyan jan pinter menyerap intisari ajaran sang Guru.

  5. sigid said,

    Februari 21, 2008 pada 9:12 am

    Mungkin maksudnya mas Pesuruh itu, “Great Lent” adalah “masa puasa” pak de.
    Dalam tradisi katolik kan ada masa pertobatan, untuk mempersiapkan hati, selama 40 hari sebelum Paskah, ditandai dengan “pasa lan sesirik”.

  6. P.Trimanto Wibowo said,

    Februari 27, 2008 pada 12:05 am

    Kisah yang menarik. Soal korupsi penggunaan fasilitas, saya punya komputer dan langganan internet sendiri lho. OK terus menulis dan corat-coret. Selamat. TUHAN memberkati.

  7. cbodho said,

    Maret 5, 2008 pada 8:11 am

    Terimaksih sudah berkenan singgah Pak Paulus. Iya ini menjadi dilemna tersendiri dengan fenomena korupsi waktu dan ‘fasilitas’ kantor ini pak. Makanya kami2 ini terlalu sering melafalkan lagu Kyrie Eleison di atas.

    Salam
    CB

  8. ekristiaman said,

    April 17, 2008 pada 11:34 am

    Benar, makanya Sang Guru ingin kita mengawasi diri, berjaga-jagalah… juga rasul Paulus di 1 Tim 4:16, apa ajaranku sama dengan hidupku, itu integritas…
    Artikel dan refleksi yang menarik, Mas.

  9. cbodho said,

    April 18, 2008 pada 6:50 am

    Saya senang dengan istilah integritas antara kata dan karya. Tetapi hati2 dengan dogma .. karena seringkali dogma membelenggu nurani. Hukum tidak pernah membebaskan melainkan kasihlah yang menyelematkan.

    Nuwun sudah mampir mas …. Punya blog yang bisa saya singgahi ??
    Salam

  10. ekristiaman said,

    April 26, 2008 pada 2:22 am

    Buat saya, integritas itu antara saya dan Tuhan. Tuhan ingin saya mengawasi diri : apa hati, pikiran, kata, dan perbuatan saya sama, di hadapan Tuhan. Supaya ketika orang mengenal saya, orang itu dapat mengenali, “Benar, dia memang kristen”, dan membawa dia datang mengenal Kristus. Tuhan ingin kita melakukannya dengan setia sampai akhir, berjaga-jaga sampai Dia datang. Itu yang dimaksud rasul Paulus bahwa kita-nya selamat, dan orang yang mendengar juga selamat. Orang jadi berhenti mengatakan, “Orang kristen koq gitu?” Praktis sekali koq Mas, hidup yang sehari-hari… jauh dari dogma malah…

    Belum punya, nanti kalau ada saya kabari.
    Salam hangat,
    mbak eva

  11. tulistulistulis said,

    September 2, 2008 pada 2:06 pm

    Saya ingin menepati janji. Monggo mampir ke http://www.tulistulistulis.wordpress.com Maklum pemula dan perlu banyak belajar dari oret2an Anda. Boleh ya saya cantumkan blog Anda di blogroll tulistulistulis? Matur nuwun inggih Mas.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: