Makna Salib – 1

 Nats: I Kor 1:18
Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.

Memandang salib Rajaku yang mati untuk dunia,
kurasa hancur congkakku dan harta hilang harganya.
Berpadu kasih dan sedih, mengalir dari lukaMu,
mahkota duri yang pedih, menjadi keagunganMu.
Melihat darah lukaNya, membalut tubuh Tuhanku,
‘ kumati bagi dunia, dan dunia mati bagiku.

Bait di atas adalah merupakan penggalan lagu yang paling saya sukai setiap kali memasuki masa raya Paskah . Terambil dari KJ 169, merupakan karya Isaac Watts (1707), yang menceritakan sengsara Salib yang tiada tara dan tak terlukiskan itu. Tetapi bukan sekedar tragedi pilu yang bisa dilihat dari tiang penyiksaanyang hina itu. Di atas kayu salib yang tergantung itu terjadi banyak paradoks di antaranya:

Di atas salib bertemu Keadilan dan Belas kasihan Allah.
Di atas salib bertemu tuntutan dan pengampunan.
Di atas salib diterima kutuk dan memancar kasih / berkat.
Di atas salib terjadi keterpisahan dan pendamaian.
Di atas salib bertemu kenistaan dan kemuliaan
Di atas salib terjadi ketidak-berdayaan sekaligus kemenangan.
Anda bias tambahkan sendiri …….

Namun bagi saya ada paradoks lain yang layak direnungkan seperti diungkapkan oleh rasul Paulus dalam I Kor 1:18 diatas. Perhatikan kata-kata kunci yang dicetak tebal berikut: Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.

Pada ayat sebelumnya (ayat 17) Paulus menyatakan bahwa dalam memberitakan Injil dia melakukannya bukan dengan kata-kata hikmat manusia, melainkan Inti berita yaitu SALIB Kristus. Supaya inti berita tidak menjadi kabur tertutup kepiawain si pemberita. Jadi pemberitaan tentang salib haruslah menjadi fokus pemberitaan Injil. Karena diatas saliblah hutang atas dosa manusia dibayar lunas, dan manusia didamaikan dengan sang Khalik. Diatas saliblah Anak Domba Allah dikorbankan, darahNya dicurahkan untuk menutup murka Allah, memenuhi keadilan Allah. Sang Anak Domba itu menggantikan posisi saya dan saudara, dan mereka.

Yang mana salib itu adalah kebodohan bagi banyak orang, kebodohan bagi dunia, karena tidak masuk akal mereka. Bagi kebijakan (pemikiran) dunia, keadilan adalah “mata ganti mata dan gigi ganti gigi”, orang yang bersalahlah yang harus mebayar, tidak ada sistem ransom, tidak ada sistem substitusi. Salib adalah suatu kenistaan, cela, ketidak-berdayaan. Dan kesia-sian belaka. Bagi mereka yang percaya salib sumber selamat adalah bodoh, bahkan hakekat kebodohan itu sendiri.

Bagi siapa salib itu suatu kebodohan??. Yaitu bagi mereka yang akan binasa!. Pada dasarnya semua manusia telah terhilang dan menuju kebinasaanya. Bagi mereka inilah berita salib tidak disingkapkan. Sehingga mereka menemui kebinasaanya karena dosa-dosa mereka sendiri, kedegilan hati mereka tidak mampu mengerti makna salib. Benarlah dikatakan ” … berita ini tersembunyi bagi orang bijak namun dibukakan bagi orang-orang kecil” (Mat 11:25).

Namun salib mempunyai makna yang sebaliknya bagi orang yang diselamatkan, yaitu orang yang dipilih sebelum dunia dijadikan (Ef 1:4), orang yang dipanggil seturut rencanaNya (Rom 8:28). Orang-orang tebusanNya, bagi mereka inilah makna salib dibukakan, sehingga salib bagi mereka bukanlah suatu kebodohan melainkan menjadi suatu sarana Allah mendayagunakan panggilanNya (effectual Calling),

Bagi mereka ini pemberitaan salib menjadi kekuatan Allah. Karena saliblah mereka dibukakan hati mereka, dan menerima panggilan hingga mereka bias menjawab panggilan Allah dan akhirnya memperoleh keselamatan. Maka sekarang bagi mereka inilah salib menjadi sumber kekuatan untuk memberitakan khabar suka cita itu. Karena mereka tahu, karena salib itulah mereka diselamatkan, karena salib itulah para martir menjemput panggilan surgawi kematiannya dengan sukacita, karena saliblah gereja menderita aniaya dan tetap berjaya (bertahan), karena salib itulah mereka sekarang menjadi pemberita. Jadi bias dilukiskan salib menjadi magnet penarik bagi orang yang kan diselamatkan dan menjadi motor penggerak bagi orang yang telah diselamatkan.

Kita lanjutkan penggalan lagu diatas.

Berpadu kasih dan sedih, mengalir dari lukaMu,
mahkota duri yang pedih, menjadi keagunganMu.
Melihat darah lukaNya, membalut tubuh Tuhanku,
‘ kumati bagi dunia, dan dunia mati bagiku.

Dari bait-bait tersebut nyata penderitaan, kepiluan, kesakitan yang dialami Sang Anak Domba, Ia rela mengosongkan diri-Nya dan meminum cawan pahit dengan rela. Mengapa ia tidak menggunakan kekuatan mukzizat untuk mengurangi rasa sakitnya atau menghentikan prosesi penyaliban? Toh Ia lebih dari mampu untuk melalukannya. Mengapa ia tidak melakukan itu ?? Mengapa ia terima semua penderitaan itu ?? Mengapa harus melalui penderitaan manusia ? Ia mau kita tahu bahwa keselamatan itu bukan murah meskipun gratis dan kita tidak menyia-nyakan keselamatan itu.

Tak boleh aku bermegah, selain didalam salibMu
kubuang nikmat dunia, demi darahMu yang kudus.
Memandang salib Rajaku yang mati untuk dunia,
kurasa hancur congkakku dan harta hilang harganya.

Tidak ada kontribusi kita untuk memperoleh keselamatan. Sehingga attribute apapun yang patut dibanggakan (kepandaian, kekayaan, talenta yang luar biasa, bahkan kerendahan hati) karena ketika itu semua diberhadapkan kepada keagungan salib, itu semua menjadi hancur, dan tidak ada harganya. Lantas apakah yang dapat kita lakukan untuk membalaskan kebaikan Tuhan kita ?. Harta, karier, keluarga atau apa saja. Saya yakin tidak akan cukup. Penggalan penutup ini mapu mengekspresikanya.

Andaikan jagad milikku dan kuserahkan padaNya.
Tak cukup bagi Tuhanku-diriku yang dimintaNya.

Bukan emas atau perak, hikmat atau kepandaian, harta atau benda, melainkan diri kitalah yang dimintanya (whole!) seperti di tuliskan oleh rasul Paulus pada Rom 12:1, persembahan total.

Lagu di atas sungguh merefleksikan makna keagungan salib yang sangat utuh. Pantaslah kalau Mahatma Gandhi sering kali menyanyikan lagu ini setiap kali ia menuju dan bangkit dari pembaringanya. Begitu pula bagi saya. Bagi saya salib adalah karya nyata Allah dan bukti kasih dan kemurahan yang tidak terbantahkan. Maka tidaklah pantas seorangpun berkata saya berkorban, mengorbankan sesuatu untuk Tuhan. Apapun bentuknya! Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! (Rom 11:36)

Soli Deo Gloria!
Cah Bodho

2 Komentar

  1. Muji said,

    Agustus 29, 2008 pada 7:24 am

    Salam merenungi semua uraian bijak diatas (Makna Salib – 1) diatas.

    Bagi saya, bagi saya semua uraian tadi menjadi entry point untuk masuk lebih dalam dengan pertanyaan yang dalam. Semua penggalan lagu tadi merupakan sedikit uraian pengalaman spiritual sang pemberita yang mungkin dalam kontek sosial tidak mungkin diurai secara blak-blakan.

    Bila dipahami, direnungi dan dirasakan dengan mata hati (batin/qolb), maka semua itu masih “KIAS” kecuali bagi si pemberita yang telah mengetahui, mengalami dan merasakan Salib yang sebenarnya Salib.

    Jadi menurut saya Makna Salib adalah sebuah hakekat dan sebuah kias, dan memang bila diartikulasikan dengan tata bahasa manusia yang paling mendekati adalah ungkapan lagu tadi.

    Kenapa wujud salib seperti itu? tidak dalam bentuk yang lainnya?.

    Kajian akan lebih menarik kalau semua bertanya pada diri sendiri dan tafsir akan hidup bila tafsir itu datang dari yang maha ruh.

    Sehingga kita akan semakin jelas dalam memahami hakekat, Tri Tunggal, Salib dan atau apaun namanya tentang ketuhanan.

    Salam.

  2. parhobass said,

    Oktober 20, 2009 pada 3:51 am

    salib

    angkat tangan kiri dan kanan 90 derajat,
    maka akan terbentuk salib hidup

    semoga dengan salib hidup ini orang bisa teringat akan salib yang dipost di sini..

    nice post bro


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: