Poligami, Bolehkah ? – Hayo Silahkan jika berani!

Mungkin pertanyaan ini terkesan propokatif. Mungkin kita akan merasa terheran-heran bila ada yang mempertanyakan hal itu, tetapi bukan mustahil ada yang mempertanyakan dengan sungguh2. Bahkan dalam satu saat teduh bersama anak bungsu kami yang berumur 7.5 tahun mempertanyakan hal itu. “Ma, apakah nanti aku boleh mempunyai dua orang isteri ?” Hal itu dia tanyakan setelah kami membaca dan merenungkan kehidupan rumah tangga Salomo (salah memilih bahan memang🙂 ).

Konon pada suatu kesempatan, Mark Twain ditanyai oleh seorang temannya yang menjadi anggota gereja Mormon, “Tunjukkan ayat di Alkitab yang melarang orang punya istri lebih dari satu!” Twaim kelabakan menjawabnya “Wah ini sulit”, kata Mark. “Tapi mungkin ini membantu, “Kamu tidak dapat mengabdi kepada dua tuan!”[1]

Tentu jawaban itu sekedar lelucon, tetapi sangat sulit dipungkiri bahwasanya pertanyaan itu sulit dijawab, sebab memang tidak ada teks Alkitab yang secara eksplisit menentang praktek poligami tersebut. Bahkan dalam narasi-narasi Perjanjian Lama terlihat seolah-olah mendukung hal tersebut. Sebut saja Musa, Abraham, Daud, Salomo[2] dan sederet tokoh-tokoh Alkitab lainnya yang mempunyai isteri lebih dari satu.

Tentu anda akan mengutip teks-teks berikut ini:

Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang. (1 Tim 3:2) atau Diaken haruslah suami dari satu isteri dan mengurus anak-anaknya dan keluarganya dengan baik. (1 Tim 3:12)

OK! memang dalam teks tersebut terdapat frasa “suami dari satu isteri”. Akan tetapi kedua teks tersebut adalah prasyarat bagi para klerus bukan bagi kaum awam. Jadi kaum awam boleh dong poligami. Eiitz jangan keburu senang dulu kawan. Meskipun teks itu hanya diperuntukkan bagi kaum klerus, bukan berarti tidak baik bila hal itu diikuti oleh kaum awam. Karena standart lebih yang dikenakan kepada kaum klerus tentu mempunyai nilai lebih bila diberlakukan kepada kaum awam. Karena hal itu merupakan bukti kemampuan mereka mengekang keinginan untuk beristeri dari satu. Coba seandainya Abraham sabar untuk tidak mengambil Hagar mungkin permasalahan Ishak-Ismael tidak perlu terjadi bukan?

Kalau begitu bagaimana dengan teks-teks PL tersebut ? Di sini kita harus belajar bahwa teks itu tidak pernah lepas dari konteks (latar belakang yang menyertai teks). Menurut pemahaman iman kristiani yang bersumber kepada PL dan PB, percaya bahwa wahyu Allah itu bersifat progressif, artinya pengungkapan wahyu Allah itu bekembang semakin lengkap dan berkelanjutan. Nilai-nilai yang berlaku pada era sebelumnya bisa saja tidak relevan dan disempurnakan pada era yang kemudian. Artinya, jika pada era PL tersebut praktek poligami merupakan suatu kewajaran, hal itu tidak berarti nilai-nilai itu dikehendaki oleh Allah sendiri, terlihat bahwa dalam era PB bagi pemimpin umat (kaum klerus) diwajibkan dan diharuskan untuk monogami. Hal ini berlaku pula terhadap penafsiran akan hukum Taurat bukan ? Demikian pula halnya proses cerai-cerai yang dilakukan oleh orang-orang Israel jaman Musa, meskipun hal itu terjadi bukan berarti Allah menyetujuinya (bandingkan Ul.24:1-4 dan Mat.19:7-8) .

Dengan demikian, meskipun Musa, Abraham, Daud, Salomo dlsb melakukan poligami, bukan berarti Allah menghendaki hal itu. Justru dari catatan PL kita melihat kegagalan tokoh-tokoh tersebut dalam memenuhi kehendak Allah. Karena pada mulanya Allah menjadikan hanya seorang Hawa bagi Adam.

Meskipun Alkitab tidak mengatakan secara eksplisit bahwa poligami adalah suatu dosa, namun melalui penggalian yang mendalam hal itu sudah melanggar rencana Allah semula (=alias dosa).

Lebih dari itu saya hanya akan member pertimbangan praktis diantaranya:

1. Apakah tujuan pernikahan anda hanya sekedar mengejar kebahagiaan fisik atau spiritual. Mungkinkah dalam satu rumah tangga dua orang isteri secara genuine bisa saling menerima? Terlebih lagi bila sang suami tidak bisa berlaku adil. Ingat Abraham dibuat menjadi tidak adil terhadap Hagar akibat bujukan Sarai bukan? Bukankah Yakub lebih mengasihi Rachel tinimbang Lea? Hal mana membuat anak-anak Rachel dibenci oleh anak2 Lea ? Bagaimana dengan poligami yang Daud lakukan dan akibatnya terhadap kehidupan keturunannya ?

2. Bagi saudara yang mendukung poligami apakah saudara juga mendukung poliandri? Apa perasaan saudara sebagai suami bila melihat isteri anda bermesraan dengan suami dia yang lain, alias anda dimadu? Adilkah saudara mau berpoligami sedangkan menolak poliandri.

3. Pernikahan terjadi atas kepercayaan dan kesetiaan, anda percaya bahwa pasangan anda setia, demikian juga sebaliknya. Jika anda sudah mendua hati apakah itu masih dikatakan setia? Bukankah kesetiaan yang Tuhan tuntut adalah kesetiaan dalam wujud tunggal. Hal ini terlihat pula dalam hakekat Allah yang menuntut kita untuk setia kepada-Nya saja tanpa tambahan ilah-ilah yang lain. Catatan Alkitab jelas Allah sangat murka ketika umat-Nya mulai melirik ilah-ilah lain (menduakan Tuhan istilah gaulnya).

Bukankah Alkitab memberikan metaphor hubungan suami-istri guna menggambarkan hubungan antara Allah dengan umat-Nya. Bahkan rasul Paulus juga menegaskan “Hai suami-suami, kasihilah isterimu seperti Kristus mengasihi jemaat-Nya” (Efesus 5:22,25). Kasih yang dimaksud adalah kasih dengan kesetiaan dan pengorbanan total. Jika demikian, bagi setiap orang yang ingin menaati Firman Tuhan tersebut di atas, seharusnya menjauhkan diri dari praktik poligami. Jika demikian, poligami harus dibasmi, bukan hanya di dalam praktik dan tindakan nyata, tapi sebelum itu: dibasmi dari hati dan pikiran. Artinya, jangan pernah mulai memikirkan praktik poligami. Jangan juga pernah berniat melakukannya.

Bagi para suami yang sudah terlanjur mengikat janji dengan si-dia yang bukan isterimu, pulang dan minta maaflah bahwa engkau telah melanggar janji setiamu. Datanglah kepada Allah dan memohon pengampunannya sebab engkau sudah melanggar Firman-Nya. Nasihat yang sama berlaku pula bagi para isteri lho! Kalau begitu, masih berani berniat poligami ?? Kalau iya … anda memang sudah ndableg bin keterlaluan.

Selamat Berjuang Kawan!


[1] Terima kasih Gus Lee @ FICA u/ leluconnya ini.

[2] Catatan: Tahukah anda bahwa Salomo mempunyai isteri dan selir 1,000 orang. Kalau mau adil setiap malam kunjungi satu isteri berarti isteri yang sama dapat giliran dikunjungi setiap 3 tahun lebih, itu pun kalau tidak ada tugas keluar kota.

 

9 Komentar

  1. P.Trimanto Wibowo said,

    Maret 5, 2008 pada 7:09 am

    Alasan yang dikemukakan Rasul Paulus sehubungan dengan persyaratan untuk penilik jemaat dan diaken, karena sepertinya banyak petobat yang sebelum bertobat dan percaya Yesus sudah menjalankan poligami. Ketika mereka percaya, mereka dan seisi rumah, maka sang suami tentunya berhenti dari menjalankan praktek beristeri lebih dari satu (2 Kor.5:17). Untuk yang tidak poligami dan percaya, jelas tidak dibenarkan untuk berpoligami. Suami yang sudah percaya (suami Kristen), tidak akan mau berpoligami. Meskipun dalam kenyataannya ada saja yang mengaku penginjil dan pendeta kedapatan selingkuh. “Berjaga dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan” nasehat Yesus untuk kita semua. Baik sekian dulu komentar saya. TUHAN memberkati. — Salam dan doa

  2. cbodho said,

    Maret 5, 2008 pada 8:07 am

    Maturnuwun Pak Paulus sampun kerso pinarak, lan paring ‘pencerahan’ ala sastrojendro hayuningrat pangruwating diyu (benar gak sih istilah ini).

    Setuju dengan pendapat Pak Paulus, juga menjadi pertanyaan nakal. Orang2 yang terlanjur berpoligami dan seluruh anak beserta isteri2nya bersedia mengikut kristen, apakah harus diceraikan agar ‘terkesan’ monogami atau giamana yaa pak ?? Boksu Daniel yang pakar etika diminta sumbang sarannya.

    Salam
    CB

  3. realylife said,

    Maret 5, 2008 pada 8:32 am

    mungkin terserah kepada yang menjalankan. itu saja!

  4. dobelden said,

    Maret 6, 2008 pada 3:41 am

    sanggup adil???

  5. sigid said,

    Maret 10, 2008 pada 5:42 am

    Saya lebih tertarik terhadap pertimbangan praktis yang dikemukakan pak de CB. Kalau secara pribadi, saya ndak ambil pusing dengan pasal/ ayat eksplisit yang mengatakan tidak boleh polygami sebagai dasar hukum.
    Ketika saya mengikuti Yesus, apa yang Dia ajarkan membuat hati saya berkata kalau poligami tidak bisa dilakukan dan itu cukup bagi saya.
    Jika kita bicara dasar hukum, mungkin saja ada “pengacara” yang bisa memutar-balikan pasal/ ayat, pemahaman, agar sesuai dengan kepentingan kita.
    Ketika dikatakan pada awalnya adalah Adam dan Hawa, atau dikatakan bahwa seorang laki-laki akan bersatu dengan istrinya sehingga menjadi satu daging, pemahaman akan hal itu sudah cukup menegaskan bahwa poligami tidak bisa dilakukan.
    Saya berusaha memahami ajaran Dia dengan hati dan hati saya bilang “you can only have one wife”

  6. imankristen said,

    April 7, 2008 pada 4:34 pm

    Salam Kenal.
    Senang dengan prinsip kamu atas satu istri. Banyak prinsip-prinsip alkitab yang menuliskannya. Bukan hurufiah yang menghidupkan, tetapi makna/prinsip didalamnya. Tuhan memberkati.

  7. Daniel Zacharias said,

    April 9, 2008 pada 4:01 pm

    Saya baca tulisan Ronald de Vaux tentang Ancient Israel soal poligaminya Salomo. Menurut data yang dia miliki, poligami Salomo lebih kental unsur politisnya tinimbang libido. Zaman itu salah bentuk ketundukan dalam bentuk upeti adalah memberikan anak wanitanya sebagai istri atau gundik dari penguasa. Saya sendiri tidak bisa menghindari bila Salomo akhirnya meniduri upetis politisnya itu tetapi apa semua wanita yang dipersembahkan padanya sesuai dengan hatinya. Kita harus sadar bahwa Salomo hidup di antara bangsa-bangsa yang poligami sedangkan di Israel sendiri hal itu bukan sesuatu yang asing pula.

    Sementara di sisi lain saya coba mempertanyakan: adakah relasi antara monotheisme dengan monogami? Keduanya bicara mengenai hubungan dan kesetiaan pada hubungan yang tidak berbagi. Harapan saya sih monotheisme dan monogami tak sama artinya dengan monopoli …😎

  8. amanivmp said,

    Desember 12, 2008 pada 8:47 am

    Maaf agak OOT.

    Mau bertanya, apakah ini Cah Bodho yang beberapa tahun lalu pernah saya kenal di milis KristenSejati ?

    Terima kasih.

    salam,
    amanivmp

  9. Desember 25, 2008 pada 5:21 am

    Yesus Kristus telah menyatakan bahwa “Pada mulanya manusia diciptakan sepasang,” ini berarti bukan 1 pria dengan 2 wanita atau lebih, tetapi benar-benar 1 pria dengan 1 wanita.

    Lebih lanjut cerita tentang poligami pada nabi & tokoh pasti ada cerita di baliknya. Misalnya Abraham, di Alkitab disebutkan bahwa Hagar & Ketura disebut sebagai “gundik” walau pun belakangan Alkitab menerjemahkannya sebagai “isteri.” Tetapi arti “isteri” dengan “gundik” adalah berbeda.

    Sayang saya belum mengkaji lebih lanjut tentang kasus poligami ini.

    *belajar dulu ah…*


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: